For the intro, entah tabiat atau gimana blog ini kayaknya akan ada post dump setahun sekali deh. But it's okay tho, at least setiap tahun ada jejaknya lagi ngerasa apa di tahun itu.
Deep thought ya?
Jadi ketrigger pengen nulis tuh karena di X lagi rame banget bahas percobaan bunuh diri yang gagal karena hal-hal sederhana. Ada yang jadi batal bunuh diri karena semangkuk soto, ada juga yang ketunda bunuh diri karena misinya pergi dengan segala benda di lemari yang sudah rapi. Surprisingly, berita abang dan semangkuk soto jadi betulan kasi lihat kalau mental health awareness di masyarakat udah cukup oke. Hampir ngga nemu komen-komen jelek dari postingan berita soal abangnya, yang ada orang-orang nulis komentar heartwarming, nyemangatin abangnya, ikut sharing soal gimana akhirnya tetap ada di dunia walaupun mental masih kusut dan urge buat ambil nyawa sendiri berulang kali ada.
Salah satu warga X yang sharing cerita, bilang, "Pernah juga, percobaan bunuh diri karena denger 'suara'." Hehe, jujur jadi keinget aku di 7 tahun yang lalu. Rasanya kondisi 'denger suara' tuh sepele ya, apalagi kalau suaranya di kepala sendiri. Kayak, "Masa sih, gitu aja jadi stress? jadi gila? jadi depresi?", padahal waktu itu rasanya di titik udah ngga ngerasa waras. Udah ngerasa semakin ngga berharga, padahal kalau coba dipikir rasional, justifikasinya semua ada. Tapi ya namanya udah ngga waras? ngga bisa mikir jernih, kondisi mentalnya emang udah lelah. Tekanannya juga udah kanan-kiri. Way outnya? ya mundur. Kasi waktu sejenak buat menata ulang semuanya.
Lately, jadi semakin yakin ternyata nggak papa loh back off dari semua hal yang udah melelahkan. Nggak papa juga hidup juga bermain di area yang aman, dan tau batas diri sampai mana. Nggak semua hal juga ternyata perlu ditantang batas diri-nya, ngga semua "keluar dari zona nyaman" bisa dikejar. Kalau udah kelelahan, ya istirahat.
Istirahat.
Sampai akhirnya punya energi buat bermimpi lagi. Sampai ketemu setapak buat mulai jalannya lagi. Sampai ketemu apa yang bikin excitementnya balik lagi. Sampai pikirannya, jadi tertata lagi.
Kalau udah tau kapan waktunya istirahat, kamu jadi akan kenal diri kamu sendiri. Dan saat kamu tau, kamu hidup dengan pola baru yang kamu yakini, maka jalani aja sampai nanti kamu lelah lagi, lalu belajar dengan dirimu lagi.
Pada akhirnya, hidup di dunia, buat singgah aja kan? kalau semuanya nyaman, ngga mau pergi dong nanti dari dunia?
--
ps: ditulis di linimasa ketika hidup di luar meja kerja terasa lebih menarik, eh bukannya semua sepakat ya?

