Jumat, 13 Juni 2025

Deep Thought in middle of 2025: Mental Health

For the intro, entah tabiat atau gimana blog ini kayaknya akan ada post dump setahun sekali deh. But it's okay tho, at least setiap tahun ada jejaknya lagi ngerasa apa di tahun itu.

Deep thought ya?

Jadi ketrigger pengen nulis tuh karena di X lagi rame banget bahas percobaan bunuh diri yang gagal karena hal-hal sederhana. Ada yang jadi batal bunuh diri karena semangkuk soto, ada juga yang ketunda bunuh diri karena misinya pergi dengan segala benda di lemari yang sudah rapi. Surprisingly, berita abang dan semangkuk soto jadi betulan kasi lihat kalau mental health awareness di masyarakat udah cukup oke. Hampir ngga nemu komen-komen jelek dari postingan berita soal abangnya, yang ada orang-orang nulis komentar heartwarming, nyemangatin abangnya, ikut sharing soal gimana akhirnya tetap ada di dunia walaupun mental masih kusut dan urge buat ambil nyawa sendiri berulang kali ada. 

Salah satu warga X yang sharing cerita, bilang, "Pernah juga, percobaan bunuh diri karena denger 'suara'." Hehe, jujur jadi keinget aku di 7 tahun yang lalu. Rasanya kondisi 'denger suara' tuh sepele ya, apalagi kalau suaranya di kepala sendiri. Kayak, "Masa sih, gitu aja jadi stress? jadi gila? jadi depresi?", padahal waktu itu rasanya di titik udah ngga ngerasa waras. Udah ngerasa semakin ngga berharga, padahal kalau coba dipikir rasional, justifikasinya semua ada. Tapi ya namanya udah ngga waras? ngga bisa mikir jernih, kondisi mentalnya emang udah lelah. Tekanannya juga udah kanan-kiri. Way outnya? ya mundur. Kasi waktu sejenak buat menata ulang semuanya. 

Lately, jadi semakin yakin ternyata nggak papa loh back off dari semua hal yang udah melelahkan. Nggak papa juga hidup juga bermain di area yang aman, dan tau batas diri sampai mana. Nggak semua hal juga ternyata perlu ditantang batas diri-nya, ngga semua "keluar dari zona nyaman" bisa dikejar. Kalau udah kelelahan, ya istirahat. 

Istirahat.

Sampai akhirnya punya energi buat bermimpi lagi. Sampai ketemu setapak buat mulai jalannya lagi. Sampai ketemu apa yang bikin excitementnya balik lagi. Sampai pikirannya, jadi tertata lagi.

Kalau udah tau kapan waktunya istirahat, kamu jadi akan kenal diri kamu sendiri. Dan saat kamu tau, kamu hidup dengan pola baru yang kamu yakini, maka jalani aja sampai nanti kamu lelah lagi, lalu belajar dengan dirimu lagi.

Pada akhirnya, hidup di dunia, buat singgah aja kan? kalau semuanya nyaman, ngga mau pergi dong nanti dari dunia?

--

ps: ditulis di linimasa ketika hidup di luar meja kerja terasa lebih menarik, eh bukannya semua sepakat ya?

Rabu, 25 Desember 2024

years later, 2024.

Hai! This one will be another "Udah lama ngga nulis" and what I mean by "udah lama" is 3 tahun. 

Sekali lagi, rasanya, menulis jadi caraku untuk meninggalkan jejak di sebuah linimasa. Kali ini sih kedoknya sembari menguji, kira-kira masih bisa ngga ya merangkai kata dengan bebas? Masih bisa ngga ya berekspresi dengan leluasa?

Ngomong-ngomong soal bebas, beberapa tahun belakangan memaknai bebas jadi sebuah perjalanan yang unik buatku. Dari yang terpaku untuk bisa bebas dalam hidup; bebas beli ini itu, bebas ngomong ini itu, bebas memutuskan apapun. Nyatanya bebas punya makna yang lain. Tapi sebelum ngobrolin yang berat-berat ala ala filosofis, mari kita update dulu kehidupan si 3 tahun belakangan ini:

so called 'lanjut sekolah' udah beres, masih bertahan di ibukota (or, udah bukan ibukota ya?), sempat berjuang abis-abisan buat sebuah pekerjaan (it was failed tho, but thats ok, life is always surprising right?), dan sekarang sedang ada di kerjaan yang ngga ada nih menulis-menulis indah. But I think I love this kind of job (agaknya).  yap, sungguh 'long story short'. 

Balik lagi soal bebas, beberapa tahun ini mendadak punya kebebasan terbang-terbang, ceilah. Part terbaik di kerjaan yang sekarang adalah dalam setahun terbang bisa belasan kali, oh I love being in the sky.

Seseorang di tempatku kerja pernah tanya "Lo ngga takut fly kalau di pesawat?" Guess what I said, "Ngga sih, kadang aku menikmati aja sensasi jadi helpless in a certain time." Agak gila dan perlu dikasi imbuhan 'naudzubillah' memang. Tapi sungguh, entah itu di pesawat ataupun di kereta, aku selalu suka rasanya jadi melankolis di antah berantah. dan jadi pasrah.

'Belasan jam di perjalanan kereta selalu berhasil bikin orang jadi puitis, cobain deh' seseorang pernah bilang ini dan aku setuju. 

(btw, I always think that having 'fly' as a part of my name makes me love flying that much haha)

Kebebasan terbang, mungkin lebih tepat kalau kita sebut jadi keseringan terbang kali ya? Cuma tentang frekuensi sih, tapi layak untuk jadi salah satu alasan bersyukur di tengah kegilaan kerja belakangan ini. 

Tapi bukan soal bebas terbang yang bikin perjalanan memaknai bebas jadi unik. Tiga tahun terakhir, mungkin sejak aku belajar bahwa cara terbaik berdialog dengan Tuhan bukan dengan memaksa dikabulkan, bebas dalam benakku adalah merelakan. 

Merelakan angan-angan yang mungkin sudah belasan tahun jadi target masa depan, merelakan roadmap hidup yang ternyata semakin baru aja nih arahnya, I mean, I was working at creative agency tho, and now I'm a researcher. Jauh banget kan?

Merelakan target 5 tahun yang dibuat waktu akhir kuliah sarjana dulu, (it was a punishment for neglecting my scholarship workshop tbh, but I did it wholeheartedly). Kilas balik 'si esai 5 tahun' itu seakan kasi tau bahwa merelakan ternyata nggak benar-benar membuat kita kehilangan sepenuhnya. Dari yang tertulis tahun kedua lanjut kuliah, ternyata Tuhan bilang iya di tahun ketiga, who knows plan lainnya juga akan bermuara di waktu yang tepat kan?

Merelakan waktu berjalan tidak sesuai rencana. Kalau konteksnya pesawat dan bandara, kejebak delay dan transit berjam-jam adalah part dimana waktu ngga sesuai rencana. Tapi dari hal sederhana itu, ada refleksi yang hadir kalau nggakpapa loh kalau ngga sesuai rencana.. Spiritually, siapa tau Tuhan menyelamatkan dari sesuatu. Practically, problem solvingnya jadi terasah. Either way, merelakan ternyata bikin kita jadi bertumbuh lebih baik. 

Merelakan kenyataan bahwa people, indeed, come and go. Entah itu orangnya, hubungannya, intensitasnya, karena yaa setiap masa ada orangnya dan setiap orang ada masanya. just let it go and embrace those who come into your life. Bebas jadi punya makna lain kalau setiap orang bebas datang dan pergi, so do I.

Last? merelakan diri untuk jadi impulsif akan sebuah rencana. Tahun depan, bismillah akan jadi game changer. Kalau seorang yang MBTI J garis keras ini bisa impulsif, berarti pelan-pelan the freedom is here. 


Sampai ketemu di 2025!


-

ps: aseli ini susah banget mau nulis ginian lagi wak. Jumpy banget, banyakan add ons nya,  help!! 

Jumat, 31 Desember 2021

Selamat Malam, 2021

 Intro apa ya yang paling pas buat membuka narasi tentang 2021 di satu jam terakhir 2021?

-

Tahun ini bener-bener kembali ke zona nyaman, mengedepankan keamanan karena.. yakali mau diluaran padahal covid masih gila-gilaan? Satu tahun penuh mencoba jadi freelancer karena harus bagi waktu sama satu project hidup.

Tahun ini, bener-bener slowing down the pace, menikmati jeda yang kayaknya 12 tahun belakangan ngga bisa dirasain. Dan ternyata, seru juga. Seru bisa ngelakuin semua yang pengen dilakuin di waktu luang. Seru bisa ngerasain rasanya jadi penikmat konten, "hari ini nonton apa ya, besok lanjut baca deh, oh iya belum cek ini, oh ini lagi tren". Seru karena ada jeda setelah bertahun-tahun bergumul dengan content planning, haha.

Tahun ini, nangisnya ada sih. Bukan nangis yang berduka atau kecewa, lebih kearah nangis bareng diri sendiri. Nangis pas ketemu sama satu hal yang baru dipahami tentang diri sendiri. Nangis ketika sadar ada yang bisa diambil maknanya dari apapun yang pernah terjadi. Nangis ketika dengerin lagu yang ngena di hati, bahkan nangisin konten grup idola yang sebenernya mah bingung juga kenapa harus ditangisin. Cengeng ya? tapi nggakpapa, udah berapa tahun juga kan hidup minim nangis, kali ini hatinya biar kembali jadi manusiawi.

Lalu tahun depan?

Tahun depan, ternyata akan balik sekolah lagi. Surprise? well, at some point IT IS surprising but this one was always on my bucket list. Tahun depan harus mulai kebut lagi, ada banyak yang pengen dicapai, semoga setelah jeda setahun ini, larinya bisa beneran lebih kenceng. 

dan yeah, Happy New Year.


Sabtu, 01 Mei 2021

Tentang Malam di Jakarta

Awalnya tulisan ini mau bercerita tentang ide menjadi figur publik kaya raya yang bisa ngapain aja termasuk berbuat baik ke sekitar. Seakan cara menjadi kaya hanyalah dengan jadi terkenal. Koreksi, bukan sekedar terkenal tapi jadi selebriti, artis, penyanyi, name it. Muncul dari mana ide ini, coba tebak?

"Rasane dadi artis ndek Jakarta iki wes pasti sukses yoh? Nek gak iso tuku omah gedhe, yo rabi karo pengusaha, enak uripe" - Yaps, yang satu ini kalimat favorit pembuka obrolan tante tetangga setiap kali saya yang dari Jakarta pulang kampung. 

(Eits tante, mau disclaimer dulu, saya ngga ngartis nih di Jakarta, kerja kantoran biasa, bidang seni sih namun bukan (atau mungkin belum) jadi seniman, baru jadi support system para seniman desainer visual.)

Mirisnya, begitu rata-rata pandangan orang luar Jakarta yang tinggal di daerah yang menyaksikan kehidupan Jakartans dari televisi. Jelas, yang jadi representasi ya para selebriti. Di batas sadar bahwa yang di layar kaca bisa jadi settingan, tetap saja pandangan bahwa hidup di Jakarta bisa cepat kaya sayangnya masih jadi celetukan hangat tiap kali ada obrolan basa basi.

-

Pada akhirnya cerita ini soal Jakarta dan kepenatannya. Tentang slogan "Jakarta keras" yang dikeluhkan warganya. Masih hitungan jari dalam satuan tahun sih ya kalau dipikir-pikir saya menyatu dengan hiruk pikuk ibukota ini. Semuanya yang serba cepat, serba berkejaran. Kota yang rasa rasanya nggak berhenti buat berambisi, bersaing satu dengan yang lain. 

Jakarta selalu menawarkan alur cerita yang berkejaran dengan waktu. Bukan hiperbola rasanya kalau bercerita tentang akses dan informasi yang lebih mudah didapatkan di kota ini. Namun, Jakarta punya cerita lebih dari sekedar metropolitan yang tak pernah tidur. 

Salah satu sinema yang rasanya cukup menggambarkan Jakarta adalah "Selamat pagi, malam". In the Absence of the Sun kalau judul internasionalnya, film yang bercerita tentang Jakarta setelah matahari tenggelam melalui cerita tiga perempuan yang hidupnya berubah di suatu malam melankolis di Jakarta. Dirilis di tahun 2014, film ini mengangkat sebuah pernyataan bahwa ditengah huru hara kehidupan keras Jakarta, masih ada hal-hal yang bisa dimaknai indah. Sesederhana berburu ketoprak di ujung malam dengan diantar setapak kaki. Seakan malam jadi berasa lebih hidup untuk diri sendiri kalau di Jakarta. 

Selamat pagi, malam juga mengangkat obsesi soal tren. Kala itu yang dicontohkan latah orang-orang akan yoghurt, rainbow cake, sampai sandal Crocs. Selama nonton jadi mikir, gila ya korban tren paling deket sebenernya ya kita-kita yang di Jakarta. Lalu didramatisir di televisi, lari ke social media, kemudian sampai ke paparan anak-anak daerah yang menelan mentah-mentah. Pada akhirnya kita semua sama, korban tren dan korban media.

Malam hari di Jakarta merupakan momen dimana kota ini akhirnya bisa beristirahat dan menghela nafasnya. Topeng topeng siang hari mulai dilepas biar bisa kasi penghargaan sama diri sendiri. Dengan caranya masing-masing. Ada yang memilih menyendiri, menyusuri trotoar, lalu ngobrol dengan abang tukang ketoprak. Bertukar basa basi, menanyakan asal dan sudah berapa lama disini, sembari menunggu ketopraknya jadi. Malam hari di Jakarta, manusianya jadi lebih jujur dengan diri masing-masing.

-

"Film ini bukan hanya menjadi love letter terhadap Jakarta, tetapi juga terhadap semua kota besar yang mengalami peperangan identitas. Film ini dibuat untuk manusia-manusia urban yang mengalami kesepian ditengah-tengah keramaian. Semoga kita semua bisa mengarungi kota yang membingungkan ini. Dan semoga kota yang sudah terus-terusan di-abused ini bisa tetap selamat, dan berdiri tegap bagaikan seorang penyanyi lounge cantik yang tidak henti-hentinya bersenandung."

Lucky Kuswandi – Writer, Editor, & Director

-

Lalu, tentang menjadi kaya dan terkenal? Entah. Mungkin memang jadi mudah berbuat baik kalau itu tujuannya, tapi lagi-lagi definisi kaya dan terkenal sama aja dengan Jakarta dan topengnya. Harus tunggu malam, biar jadi jujur, merangkul penat dan beristirahat dari kata tuntutan sempurna.

Selasa, 20 April 2021

Expect the Unexpected, Katanya.

4 bulan pertama di tahun 2021 ternyata mengubah banyak sudut pandang yang rasa-rasanya tahun lalu mentok di situ situ aja. Kalau mau dikasi judul, expect the unexpected kayaknya cocok deh. Tahun ini, dibanding banyak meminta dengan skema lengkap sementara bumi kembali sehat aja belum tahu kapan, meminta tanpa syarat ternyata jadi lebih nyaman.

Kalau dulu minta sama Tuhan seakan ngajuin proposal lengkap sampai timeline. "Tuhan, aku minta ini karena ini loh", wih latar belakang belasan paragraf jadi narasi pengantar di setiap sujud. "Tuhan, setelah ini aku mau ini ya", rencananya ada dari belasan abjad sampai turunan angka romawi. Padahal kalau dipikir, siapa kita mau ikut ngatur rencana Tuhan.

Tahun ini, punya rencana fokus ke pemasaran, taunya Tuhan masih kasi tuh agenda berjibaku dengan social media, juga bersua dengan press release. 

Tahun ini, tetiba punya banyak kenalan dari kesamaan interest. Nggak pernah diminta loh ini, dan semenyenangkan itu kembali punya teman dari berbagai bidang. Mendadak, impian-impian kecil di masa lalu muncul seakan bilang "Hey, mau coba lagi nggak?"

Tahun ini di tengah ruang yang harusnya terasa sepi, malah terisi penuh. Berdua ternyata jadi bikin lebih banyak momentum, dengan diri juga jadi lebih banyak rekreasi. Lalu mau minta nikmat yang gimana lagi?

Tahun ini, masih ada 8 bulan lagi, lanjut berencana sih udah pasti. Cobain semua pintu, tapi terserah Tuhan mau bukain jalan yang sebelah mana. 

- Eff dalam edisi Ramadhan, jadinya religius.


Selasa, 08 Desember 2020

Dari Dua Tahun Silam, Si Anak Magang Oren

"Nostalgia sebentar yuk" - Eff di tahun 2018 seakan manggil buat nengok dulu bentar ke belakang. 

Beberes file-file lama emang paling bisa ya sis buat bikin nostalgia, apalagi kalau yang di bongkar file hape lama, beuh folder screenshot jadi favorit biarpun agak eneg banyak sampahnya. Kali ini, jadi throwback ke tahun 2018, tahun yang ngeri ngeri sedep, (ngga deng!), alias tahun jadi anak magang Sovi!

Ketemu beberapa file-file lama, skrinsyut report ke pak bos, chat chat koordinasi, bikin senyum-senyum terus pukpukin pundak sendiri: yaampun nduk udah tumbuh sejauh ini ya ternyata? Dua tahun lalu, dipasrahin kontakan sama berbagai vendor buat media placement, pas ada unexpected situation handlenya masih pake panik panik ajaib. 

Mba vendor media: mba barusan ada info dari radio X, katanya adlibsnya gabisa english full 
2018' Eff: Ha? gimana gimana mba? boleh tolong list dengan jelas ngga mba ketentuannya? Enaknya gimana ya mba (lah kocak, mbanya suru mikir, sangking uda panik plus uda sohiban)

Kalau boleh balik ke 2018 ni, gue jitak pala lu fly

***

Mulai dari Meet Lisa, 99, sebelasebelas, road to sale ulang tahun alias 11.12 ft blekping, sampe terakhir 1212. Proses belajar seorang anak PR yang kecemplung ke media buying. Mantengin rating TV tiap minggu, nyimak geng ahensi present efektifitas placement iklan, nyalin update vote the voice sama PRT (jujur lupa ini acara apa ya dulu), koleksi proof print OOH di meja pasca approval, nongkrongin syuting built in produk di sinetron kebanggaan audiens tercinta. Judul sinetron beserta rating pertelevisian dulu mah hafal haha.

Setiap ada TV show pertanggalan dobel juga dah pasti ikut jadi tim sibuk bareng brand tim, kebagian juga project yang kudu di handle sendiri dari tim alias si creative installation di jalan tunjungan sby sama di PVJ. Sampe terbang ke Surabaya banget waktu itu bahkan hahahaha.

Dulu, nangis mah nangis, pasti. Capek banget rasanya, tapi kalau diwawancara sekarang capeknya kenapa? udah lupa tuh hahaha. 

Sampai akhirnya, di tumpukan file ketemu screenshot yang satu ini:


Screenshot_2018-10-28-20-41-25-383_
tertanggal 28 Oktober, akhirnya keinget, this was my 2018 theme song <3

Liat screenshotan gini seakan dapet pesen dari aku di tahun 2018.
Dulu sempet ups and downs pas ngejalaninnya, yang ternyata sekarang kalau dikenang, sisa keinget momen keren & seru-serunya aja.

Keingetnya malah pas seru-seruan tim building di dufan seharian, bukan huru hara tiap hari kuliah pagi, balik kelas lanjut magang till drop.

Keingetnya pas jam sore main voli balon atau pas cover dance Twice sama sobat kpop di depan bos after lunch, bukan pas kepala mau pecah mikirin bimbingan tugas akhir kuliah yang barengan sama campaign instalasi surabaya.

Keinget gimana feeling as the cool kid yang ikut ngurusin campaign-campaign gede sovi, terus excited pas kebagian update weekly meeting departemen marketing tiap senin, wii suara gue didenger semua orang

Dan tentu saja nggak lagi inget gimana dulu insecure at the highest karena batal jadi PIC perTVan 1212 padahal mah semua orang udah maklum, emang udah nggakmungkin banget bagi badan sama UAS 7 kelas + sidang akhir.

Intinya, it wasn't easy at all, dan loh ternyata terlewati juga ya. 

I Hate to Admit (ceunah)

Sebelum mulai, mari kita ubah mood menjadi sendu. *triiing* Terkadang kalau lidah udah jadi kelu, pundak siapapun tidak lagi bisa ditumpu, ya menulis satu-satunya yang jadi pelarian semu. Cie gitu. 

Nggak ah, tulisan ini bukannya mau sambat, cuma mau jadi media buat meninggalkan jejak kata aja. Pas banget buat merangkum hari ini [20/11], ceritanya. Obrolan singkat bareng temen dari sebuah masa, ditengah aktivitas yang bikin dikit-dikit jadi kilas balik, eh si lagu sendu ikut keputer seakan jadi background musik.

Jadi menerawang, lalu memaksa diri buat mengakui kalau semua ini pernah terasa menyenangkan. Kalau kata bangcan, "The you I've pictured even in my dreams, have already changed". Melepas nggak pernah jadi sesuatu yang super mudah, yakan? Melepas, ibarat proses melewati gerbang sambil bertanya: beneran nih nggakpapa pergi? Eh tapi kalau boleh jujur rasanya lega, asli deh.

Kepada hari-hari yang menyenangkan, tentunya ada banyak terima kasih yang terucap. Nah, kalau yang menyebalkan, ya sudah, toh sudah disudahi juga. Dalam prosesnya, perasaan ya sedang beradu, mixed feeling ceunah. 

***

Injeonghagi Silheo, Ihaehagi Himdeuleo, -Bang Chan, SKZ 


Jumat, 02 Oktober 2020

Save the Children - It's the beginning


Someone ever asked me this: "Does a child born good or they're born evil?"

And what I answered that time was: "No matter the answer is, every child deserves a good life, isn't it?"

Senin, 21 September 2020

Dibawa Ketawa Aja

Hampir tengah malam dan tulisan ini dibuat abis merenung (ceilah) soal daftar drama di 2020. Bukan drama korea, bukan. Bukan juga drama Indos*ar, biarpun sama alur ceritanya sama ngehenya. 

Masih bisa bercerita sambil menyeruput cookies and cream dari salah satu brand kopi kopian hits ibukota seakan jadi berkah tersendiri. Ditengah hidup yang juga nggak tau masih bisa dikata hidup atau nggak ya ini?

Tulisan ini mau jadi rekam jejak, biar nanti di tahun sesudah 2020 bisa kilas balik ala ala, sambil mengapresiasi diri karena udah bertahan dengan baik setidaknya 6 bulan terakhir. 

Sabtu, 01 Juni 2019

Membuka lembar baru?

Lagi lagi openingnya tertulis "udah lama ya nggak ngeblog" atau "terakhir kali blogging kapan ya"
2014 ke 2015 ke 2016, dan sekarang udah 2019 ae.

Baru banget baca tulisan pendek seseorang yang baru baru ini ku kagumi keberadaannya. "Mimpi yang terkubur adalah mimpi yang nggak dikerjakan". Setuju sih, lalu ambil kaca, dan ngomong sama diri sendiri. "hei mau berapa alasan lagi?"

Kuliah udah rampung, kerjaan juga udah punya. Mau berapa alasan lagi buat membiarkan segala perencanaan tetap jadi rencana dan segala daftar impian tetap bersih tanpa coretan.

"udah lama ya nggak serius nulis",
"nulis aja engga, apalagi serius nulis".
Jadi malu, dulu suka bilang sama diri sendiri, pengen banget jadi orang yang punya pengaruh lewat karya. Tapi lucunya sekalipun nggak pernah mulai. Sampai akhirnya diterjunkan ke sebuah dunia dimana setiap orangnya punya karya, setiap manusianya punya cerita dan mimpi mulia.

Buka satu per satu media sosial mereka, bikin pengen nutup media sosial sendiri.
Jadi pengen rebranding, cie gitu. Abisnya malu, masih belum ada jejak digital yang bisa kasi lihat apasih yang ada dipikiran seorang saya sesungguhnya. Yang nampang masih aja foto muka bertebaran tapi ngga ada cerita, yang nampak masih saja tulisan curhat ala-ala yang rata barisannya masih bikin sakit mata.

"Nanti pas kuliah tidak lagi mengikat, ketika duit bukan lagi jadi alasan..."

Ceritaffuri akan berlanjut, masih dipikirkan lewat medium apa.
Insyaallah kali ini akan serius. Ceritanya membuka lembar baru, tapi sepertinya lebih tepat buat dibilang lembaran baru untuk kembali membuka diri.

Sampai jumpa!

Deep Thought in middle of 2025: Mental Health

For the intro, entah tabiat atau gimana blog ini kayaknya akan ada post dump setahun sekali deh. But it's okay tho, at least setiap tah...