Rabu, 25 Desember 2024

years later, 2024.

Hai! This one will be another "Udah lama ngga nulis" and what I mean by "udah lama" is 3 tahun. 

Sekali lagi, rasanya, menulis jadi caraku untuk meninggalkan jejak di sebuah linimasa. Kali ini sih kedoknya sembari menguji, kira-kira masih bisa ngga ya merangkai kata dengan bebas? Masih bisa ngga ya berekspresi dengan leluasa?

Ngomong-ngomong soal bebas, beberapa tahun belakangan memaknai bebas jadi sebuah perjalanan yang unik buatku. Dari yang terpaku untuk bisa bebas dalam hidup; bebas beli ini itu, bebas ngomong ini itu, bebas memutuskan apapun. Nyatanya bebas punya makna yang lain. Tapi sebelum ngobrolin yang berat-berat ala ala filosofis, mari kita update dulu kehidupan si 3 tahun belakangan ini:

so called 'lanjut sekolah' udah beres, masih bertahan di ibukota (or, udah bukan ibukota ya?), sempat berjuang abis-abisan buat sebuah pekerjaan (it was failed tho, but thats ok, life is always surprising right?), dan sekarang sedang ada di kerjaan yang ngga ada nih menulis-menulis indah. But I think I love this kind of job (agaknya).  yap, sungguh 'long story short'. 

Balik lagi soal bebas, beberapa tahun ini mendadak punya kebebasan terbang-terbang, ceilah. Part terbaik di kerjaan yang sekarang adalah dalam setahun terbang bisa belasan kali, oh I love being in the sky.

Seseorang di tempatku kerja pernah tanya "Lo ngga takut fly kalau di pesawat?" Guess what I said, "Ngga sih, kadang aku menikmati aja sensasi jadi helpless in a certain time." Agak gila dan perlu dikasi imbuhan 'naudzubillah' memang. Tapi sungguh, entah itu di pesawat ataupun di kereta, aku selalu suka rasanya jadi melankolis di antah berantah. dan jadi pasrah.

'Belasan jam di perjalanan kereta selalu berhasil bikin orang jadi puitis, cobain deh' seseorang pernah bilang ini dan aku setuju. 

(btw, I always think that having 'fly' as a part of my name makes me love flying that much haha)

Kebebasan terbang, mungkin lebih tepat kalau kita sebut jadi keseringan terbang kali ya? Cuma tentang frekuensi sih, tapi layak untuk jadi salah satu alasan bersyukur di tengah kegilaan kerja belakangan ini. 

Tapi bukan soal bebas terbang yang bikin perjalanan memaknai bebas jadi unik. Tiga tahun terakhir, mungkin sejak aku belajar bahwa cara terbaik berdialog dengan Tuhan bukan dengan memaksa dikabulkan, bebas dalam benakku adalah merelakan. 

Merelakan angan-angan yang mungkin sudah belasan tahun jadi target masa depan, merelakan roadmap hidup yang ternyata semakin baru aja nih arahnya, I mean, I was working at creative agency tho, and now I'm a researcher. Jauh banget kan?

Merelakan target 5 tahun yang dibuat waktu akhir kuliah sarjana dulu, (it was a punishment for neglecting my scholarship workshop tbh, but I did it wholeheartedly). Kilas balik 'si esai 5 tahun' itu seakan kasi tau bahwa merelakan ternyata nggak benar-benar membuat kita kehilangan sepenuhnya. Dari yang tertulis tahun kedua lanjut kuliah, ternyata Tuhan bilang iya di tahun ketiga, who knows plan lainnya juga akan bermuara di waktu yang tepat kan?

Merelakan waktu berjalan tidak sesuai rencana. Kalau konteksnya pesawat dan bandara, kejebak delay dan transit berjam-jam adalah part dimana waktu ngga sesuai rencana. Tapi dari hal sederhana itu, ada refleksi yang hadir kalau nggakpapa loh kalau ngga sesuai rencana.. Spiritually, siapa tau Tuhan menyelamatkan dari sesuatu. Practically, problem solvingnya jadi terasah. Either way, merelakan ternyata bikin kita jadi bertumbuh lebih baik. 

Merelakan kenyataan bahwa people, indeed, come and go. Entah itu orangnya, hubungannya, intensitasnya, karena yaa setiap masa ada orangnya dan setiap orang ada masanya. just let it go and embrace those who come into your life. Bebas jadi punya makna lain kalau setiap orang bebas datang dan pergi, so do I.

Last? merelakan diri untuk jadi impulsif akan sebuah rencana. Tahun depan, bismillah akan jadi game changer. Kalau seorang yang MBTI J garis keras ini bisa impulsif, berarti pelan-pelan the freedom is here. 


Sampai ketemu di 2025!


-

ps: aseli ini susah banget mau nulis ginian lagi wak. Jumpy banget, banyakan add ons nya,  help!! 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Deep Thought in middle of 2025: Mental Health

For the intro, entah tabiat atau gimana blog ini kayaknya akan ada post dump setahun sekali deh. But it's okay tho, at least setiap tah...