Jumat, 06 November 2026

Loh, second writing in a year?

Target awal cuma nulis sekali setahun, nyatanya di paruh kedua tahun ini mood semakin unstable, silent cry semakin sering (silent cry gatuh?), dan self-blaming semakin kenceng.

di paruh kedua tahun ini, di tengah huru hara negara dan dunia, rasanya jadi bipolar dalam interval 24 jam tuh ada banget. Sehari nangis, pushed away people, sehari berikutnya cerah. Coping mechanism coba terus dicari, mulai dari balik olahraga, nonton series youtube sejarah dunia, cari muse di film-film, tapi tetep aja tiap trigernya datang selalu jadi reaktif, cari samsak, yang ujungnya nonjok diri sendiri. 

hari ini juga tercatat h-2 minggu sebelum liburan, tapi rasanya semuanya masih berantakan. 

Hari demi hari rasanya, liat cermin bikin berasa liat versi manusia yang paling kubenci di dunia. Her appearance, her behavior, the way she speaks, the inner thought she has, everything. The way she took anything for granted, and blame herself. The commitment she could never commit. I hate her even more everyday. 

Moreover, the way she pushed away people, but silently hope to be found, to feel being needed. But she deny every hand that try to reach her. 

and.. the thing is. The sentences we (she and I) always like and feel trapped was: 

"She is merely a shell that keeps making itself harder."

-

Gelap yah tulisannya, kayaknya lebih cocok ada di jurnal harian, tapi rasanya emang pengen ninggalin jejak kalau di fase ini semuanya lagi terasa berantakan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Loh, second writing in a year?

Target awal cuma nulis sekali setahun, nyatanya di paruh kedua tahun ini mood semakin unstable, silent cry semakin sering (silent cry gatuh?...