Namanya
rel kereta mati, begitu mereka menyebutnya. Tempat yang sering digunakan
sebagai peredam kebisingan hiruk pikuk kota, yang pernah atau mungkin sering
dijadikan sebagai penghenti nyawa. Tempat yang menjadi jalan alternatif bagi
mereka yang bosan bermasalah. Tempat yang bisa dibilang destinasi bunuh diri
orang orang bodoh yang mengakhiri hidup dengan cara yang bodoh juga. Inka
mendengar tempat ini dari Kaska, Kaska bilang mereka yang memilih tempat
ini, benar benar hancur dan menyatu dengan tanah. Tak akan ada yang tahu,
kereta yang melintas melaju dengan kecepatan tinggi ditambah lagi letak
rel kereta ini di tempat terpencil yang jauh dari pemukiman. Kaska juga bilang
hanya dua kasus bunuh diri yang sempat ditemukan jasadnya. Dan di sinilah Inka
sekarang, di rel kereta mati, seperti hal nya orang orang bodoh sebelumnya.
Dijejakinya
setapak demi setapak bantalan kayu yang melintang di bawah rel. Tatapannya
kosong, menerawang entah kemana. Inka tahu yang dilakukannya kini salah, ia
hanya bingung apa yang harus dilakukannya. Masalah-masalah hidupnya kian
menumpuk, membuat Inka semakin tertekan. Setiap orang memiliki cara
penyelesaian masalah masing-masing bukan, beberapa diantaranya mungkin sama
dengan Inka, memilih jalan pintas dan hengkang dari urusan duniawi.
Sesekali
Inka menghela nafas, seolah menikmati rasanya bernafas di menit menit
terakhirnya. Inka memainkan ujung rambutnya sembari menunggu kereta yang
dijadwalkan melintas lima belas menit lagi.
“Kira-kira berhadapan sama kereta, gimana ya rasanya?”Inka menggumam.
“Kakak
ngapain loncat loncat disitu?Lagi main pindan?” seorang bocah perempuan lusuh
menghampiri Inka.
Sedikit kaget, Inka
menjawab pertanyaan bocah tadi.
“Nggak. Kakak cuma iseng aja. Kamu ngapain dek
disini?”
“Main kak, aku bosan main di sekitar rumah,
jadinya aku sering main sampai kesini. Oh ya kak, namaku Asti.Kakak?”
“Inka. Rumah kamu deket deket sini?”
“Nggak kak. Rumah
aku jauh, jauh banget malah!”
Inka hanya menggangguk
tanda mengerti sambil menggumamkan “oh” pendek. Inka beranjak meniti rel sambil
membentangkan tangannya. Dia melirik gadis kecil tadi sekilas, gadis itu tengah
mengekor di belakangnya,memasang wajah polos berusaha menjaga keseimbangan.
“Oh iya, kakak ngapain iseng sampai main ke
tempat terpencil gini?”
“Ngg….” Inka terdiam, ia terlalu hafal tentang
tujuan juga tentang semua tumpukan masalahnya.
“Kakak mau nantangin
kereta juga?”mata bocah bernama Asti itu membulat. Inka tersenyum sekilas .
“Waktu itu aku
ketemu orang yang seumuran kakak, dan dia bilang dia mau nantangin kereta”jelasnya
tanpa diminta
“Oh ya?” Inka mengernyitkan dahi. Dia mengerti
apa yang dikatakan bocah ini tentang menantang kereta, Inka tersenyum getir
‘bunuh diri juga rupanya’
“Asti liat waktu kakak itu nantangin kereta?”
“Asti nggak lihat,
Asti pikir keretanya masih lama, jadi Asti main-main di sungai. eh ternyata pas
Asti di sungai keretanya lewat. Asti nggak tau deh ”
Inka
menghela nafas, keingintahuannya pupus begitu saja. Lagipula buat apa dia tahu,
toh masih banyak pertanyaan pertanyaan lain yang berdesakkan di benaknya.
“Kalau
kata Asti, kayaknya sih sakit gitu.. Tapi Ibu Asti bilang, manusia itu benda
yang kuat,paling hebat,lebih dari apapun, jadi ya bisa aja enggak sakit”
“Oh
ya? Menurut Asti manusia lebih kuat dari kereta?”
“Asti
juga nggak tau kak, hanya saja Ibu Asti pernah bilang, manusia itu hebat.
Mereka punya masalah tapi mereka selalu bisa mengatasinya sendiri. Nah kalau
benda mati, meskipun yang kuat kaya kereta, pas mereka bermasalah, mereka nggak
bisa apa-apa, malahan dibantuin manusia.”
Inka tersentak, rasanya seperti disadarkan
dengan tamparan manis dari bocah polos yang harusnya tidak sebijaksana ini.
‘manusia selalu bisa mengatasi masalahnya sendiri. Selalu?’ Inka tersenyum
pahit. ‘Sayangnya manusia itu bukan aku’
“Kamu
nggak takut dicariin ibu kamu, main jauh jauh gini?"
“Iyasih
kak,tapi asal nggak kemaleman ibu nggak bakal khawatir. Pernah loh kak, waktu
itu Asti pulangnya kemaleman, habisnya Asti nangkepin capung di sawah. Terus
pas Asti pulang Ibu langsung meluk Asti sambil nangis juga loh kak. Katanya,
Ibu takut kehilangan Asti. Hihi, habis meluk , eh Ibu malah jitak Asti” Bocah
lugu itu tersenyum lebar, memamerkan sederet giginya yang rapih.
Inka terdiam, satu lagi pertanyaan di benaknya
kembali mengambang. Jika dia pergi, menghilang, siapa saja yang akan
mencarinya. Jika dia mati, air mata siapa saja yang akan tumpah dengan tulus.
Pertanyaan-pertanyaan itu sederhana, Inka hanya ingin tahu siapa saja yang
tulus mencintainya.
Ibunya? Inka tahu, ia sudah banyak menyusahkan ibunya,
mengecewakan bahkan menyakiti hati Ibunya. atau Ayahnya? Kak Nadia? Kak Alma?
Dara? Bik Ima? Siapa? Lalu sahabat-sahabatnya, semua teman? Apa mereka tulus
menyayanginya? Toh Inka sering merasa dirinya diabaikan, semua totalitasnya
menyayangi mereka, menghafal setiap momen berharga, tetap saja yang Inka
rasakan dari mereka berbeda. Pertanyaan itu sederhana, hanya butuh jawaban siapa
saja yang menyayangi Inka dengan tulus.
“Hah? Eng, enggak ..
Cuma kepikiran sesuatu aja.”
“Kakak boleh kok cerita
ke Asti, mungkin Asti bisa bantu..”
Inka tersenyum. “Nggak
usah, biar Kakak urus sendiri”
“Emang, kakak nggak
capek ya ngangkut karung beras sendirian?”
“Yang dipikirkan orang
sampai bikin diem dan dipanggil berkali kali nggak nyahut biasanya itu masalah,
nah masalah itu sama aja kayak karung beras yang diangkut di pundak. Jadi, Asti
rasa Kakak butuh orang lain buat bantuin kakak ngangkut karung beras.
Deg.Kali
ini sudah ke sekian kalinya, Inka tercengang dengan ucapan gadis polos tadi.
Tajam, walau dikemas dalam bahasa sederhana.
Inka memejamkan mata,
mencoba memikirkan segalanya. “Kak… Asti pergi dulu ya” Suara lirih Asti
menyadarkan Inka beberapa detik kemudian. Inka memperhatikan sekelilingnya,
berusaha menemukan Asti dan sayangnya bocah itu telah pergi. Inka mengecek jam
tangannya, memastikan berapa menit lagi kereta akan melintas.
‘tiga menit lagi’ Inka mulai bimbang, meneruskan niatnya
atau mencoba mendengarkan saran Asti untuk berbagi ‘karung beras’,Inka
mengakuinya selama ini dia selalu berusaha memendam semua masalahnya sendiri,
bak superhero Inka selalu merasa dia mampu menyelesaikan seluruh persoalannya
sendirian. Sampai pada akhirnya titik jenuh, batas kemampuan, atau apalah itu
muncul tiba-tiba. Inka tahu dia tertekan. Inka menhan nafas, dari kejauhan mulai
tampak siluet kereta yang melaju cepat. Inka menggigit bibirnya, memejamkan
mata. Kaki nya mendadak beku, ia pasrah sementara pikirannya berkecamuk. Inka
melihat dari celah matanya, lampu kereta api yang semakin mendekat, BLAM! Dan
segalanya menghitam.
Inka membuka matanya, sebuah ruang kosong yang gelap.
Inikah kematian? Tanyanya. ‘Sesederhana ini? Hanya gelap, hampa. Tak ada
malaikat maut yang menjemputnya, melepas nyawa dengan rasa sakit yang katanya
luar biasa. Hanya ini?’ Inka melihat cahaya, dia mengikutinya.. cahaya itu
mengantarnya ke sebuah bangku kecil dan seorang anak yang memangku boneka nya.
“Eh, Kak Inka.. duduk
sini kak” Asti tersenyum manis. Inka terdiam, anak kecil ini memang Asti, tapi
penampilannya lebih manis dari dapada yang ia temui tadi. Inka bingung, ada apa
ini? Satu lagi pertanyaan baru bagi nya.
“Kakak kok diem?” Déjà
vu. Siang tadi Asti menanyakan pertanyaan yang sama. Inka tak menjawab, ia
hanya menatap Asti penuh tanya.
“Lari itu nggak
menyelesaikan masalah kak, buktinya kakak masih bisa ingat tentang semuanya.
Kakak nggak akan bisa lari walau kesini sekalipun, kecualii yaah, kakak lupa
ingatan. Masalah itu dihadapi kak, diselesaikan, terus tinggal ditinggalin deh
dibelakang. Nih ya kak, ibaratnya masalah itu kucing kelaparan yang ngejar
kakak, solusinya ya kakak ngasi makan kucing tadi. Dengan begitu si kucing akan
diam dan nggak ngejar lagi. Selesai.” Asti tersenyum lebar.
Inka
masih terdiam, membenarkan kata-kata Asti, tapi dia hanya bisa diam. Inka tidak
tahu cara nya kembali dan menyelesaikan semua masalahnya, dia disini sekarang
bersama jutaan pikiran yang berkecamuk dibenaknya, tanpa ia tahu harus
bagaimana.
“Kakak kan masih punya
orang lain disekitar kakak, kakak bisa kok bagi karung beras ke mereka. Percaya
dong kak, Satu hari itu cuma 24 jam, nggak mungkin lebih. Dan yang namanya
masalah, hari ini ada, bisa jadi besok udah terkikis. Jangan terlalu didaftar jadi
beban. Disenyumin aja, ntar juga masalahnya nemuin solusi, apapun itu.”
Inka
kembali memejamkan mata, kembali berharap waktu bisa diulang, kembali berdo’a
agar dia diijinkan memulai segalanya biarpun ia harus memulainya di detik
terakhirnya.
“kaaa?Reinkamalia…tolong
sadar”
Inka membuka mata, “Kaska?” Inka
memperhatikan sekelilingnya, ‘rumah sakit?’
“Iya. Asti. Anak kecil
yang dikuncir dua, pakai gelang kupu-kupu”
“Dia nggak ada ka”Wajah
Kaska meredup.
“Dia udah pulang?Kok dia
nggak nunggu aku sadar sih?”
“Dia nggak ada, nggak
pernah ada.”Kaska membuang muka, menghindari tatapan tanya Inka.
Rel
Kereta Mati batal mendapatkan tambahan mineral tanahnya. Begitu juga Inka, dia
batal menuliskan hari itu sebagai tanggal terakhirnya. Semua berkat Asti.
Karena Asti pernah bertemu Kaska, orang seumuran Inka yang menantang kereta
sebelumnya. Asti juga berhasil membuat Kaska mengurungkan niatnya dengan
semua kata-kata bijaknya. Secara teknis Inka memang diselamatkan oleh Kaska. Kaska
datang ke tempat itu untuk mencari gadis kecil bernama Asti, dia datang setiap
harinya dan tidak pernah menemukan bukti apapun tentang keberadaan Asti.
Kenyataannya Rel Kereta Mati terlalu jauh dari pemukiman, dan mustahil bagi
seorang gadis kecil berusia Sembilan tahunan bisa bermain-main sampai ketempat
itu. Tapi tetap saja, Inka selamat berkat Asti. Siapapun Asti, dia telah
menghidupkan semangat dua orang bernama Inka dan Kaska untuk kembali
melanjutkan hidup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar