Senin, 24 Juni 2013

Rel Kereta Asti


Namanya rel kereta mati, begitu mereka menyebutnya. Tempat yang sering digunakan sebagai peredam kebisingan hiruk pikuk kota, yang pernah atau mungkin sering dijadikan sebagai penghenti nyawa. Tempat yang menjadi jalan alternatif bagi mereka yang bosan bermasalah. Tempat yang bisa dibilang destinasi bunuh diri orang orang bodoh yang mengakhiri hidup dengan cara yang bodoh juga. Inka mendengar tempat ini dari  Kaska, Kaska bilang mereka yang memilih tempat ini, benar benar hancur dan menyatu dengan tanah.  Tak akan ada yang tahu, kereta yang melintas  melaju dengan kecepatan tinggi ditambah lagi letak rel kereta ini di tempat terpencil yang jauh dari pemukiman. Kaska juga bilang hanya dua kasus bunuh diri yang sempat ditemukan jasadnya. Dan di sinilah Inka sekarang, di rel kereta mati, seperti hal nya orang orang bodoh sebelumnya.

Dijejakinya setapak demi setapak bantalan kayu yang melintang di bawah rel. Tatapannya kosong, menerawang entah kemana. Inka tahu yang dilakukannya kini salah, ia hanya bingung apa yang harus dilakukannya. Masalah-masalah hidupnya kian menumpuk, membuat Inka semakin tertekan. Setiap orang memiliki cara penyelesaian masalah masing-masing bukan, beberapa diantaranya mungkin sama dengan Inka, memilih jalan pintas dan hengkang dari urusan duniawi.

Sesekali Inka menghela nafas, seolah menikmati rasanya bernafas di menit menit terakhirnya. Inka memainkan ujung rambutnya sembari menunggu kereta yang dijadwalkan melintas lima belas menit lagi.

“Kira-kira berhadapan sama kereta, gimana ya rasanya?”Inka menggumam.
“Kakak ngapain loncat loncat disitu?Lagi main pindan?” seorang bocah perempuan lusuh menghampiri Inka.

Sedikit kaget, Inka menjawab pertanyaan bocah tadi.
“Nggak. Kakak cuma iseng aja. Kamu ngapain dek disini?” 
“Main kak, aku bosan main di sekitar rumah, jadinya aku sering main sampai kesini. Oh ya kak, namaku Asti.Kakak?” 
 “Inka. Rumah kamu deket deket sini?” 
“Nggak kak. Rumah aku jauh, jauh banget malah!”

Inka hanya menggangguk tanda mengerti sambil menggumamkan “oh” pendek. Inka beranjak meniti rel sambil membentangkan tangannya. Dia melirik gadis kecil tadi sekilas, gadis itu tengah mengekor di belakangnya,memasang wajah polos berusaha menjaga keseimbangan.

 “Oh iya, kakak ngapain iseng sampai main ke tempat terpencil gini?”
 “Ngg….” Inka terdiam, ia terlalu hafal tentang tujuan juga tentang semua tumpukan masalahnya.
“Kakak mau nantangin kereta juga?”mata bocah bernama Asti itu membulat. Inka tersenyum sekilas .
 “Waktu itu aku ketemu orang yang seumuran kakak, dan dia bilang dia mau nantangin kereta”jelasnya tanpa diminta
 “Oh ya?” Inka mengernyitkan dahi. Dia mengerti apa yang dikatakan bocah ini tentang menantang kereta, Inka tersenyum getir ‘bunuh diri juga rupanya
 “Asti liat waktu kakak itu nantangin kereta?”
 “Asti nggak lihat, Asti pikir keretanya masih lama, jadi Asti main-main di sungai. eh ternyata pas Asti di sungai keretanya lewat. Asti nggak tau deh ”

Inka menghela nafas, keingintahuannya pupus begitu saja. Lagipula buat apa dia tahu, toh masih banyak pertanyaan pertanyaan lain yang berdesakkan di benaknya.

“Kalau kata Asti, kayaknya sih sakit gitu.. Tapi Ibu Asti bilang, manusia itu benda yang kuat,paling hebat,lebih dari apapun, jadi ya bisa aja enggak sakit”
“Oh ya? Menurut Asti manusia lebih kuat dari kereta?”

“Asti juga nggak tau kak, hanya saja Ibu Asti pernah bilang, manusia itu hebat. Mereka punya masalah tapi mereka selalu bisa mengatasinya sendiri. Nah kalau benda mati, meskipun yang kuat kaya kereta, pas mereka bermasalah, mereka nggak bisa apa-apa, malahan dibantuin manusia.”

Inka tersentak, rasanya seperti disadarkan dengan tamparan manis dari bocah polos yang harusnya tidak sebijaksana ini. ‘manusia selalu bisa mengatasi masalahnya sendiri. Selalu?’ Inka tersenyum pahit. ‘Sayangnya manusia itu bukan aku’
 
“Kamu nggak takut dicariin ibu kamu, main jauh jauh gini?" 
“Iyasih kak,tapi asal nggak kemaleman ibu nggak bakal khawatir. Pernah loh kak, waktu itu Asti pulangnya kemaleman, habisnya Asti nangkepin capung di sawah. Terus pas Asti pulang Ibu langsung meluk Asti sambil nangis juga loh kak. Katanya, Ibu takut kehilangan Asti. Hihi, habis meluk , eh Ibu malah jitak Asti” Bocah lugu itu tersenyum lebar, memamerkan sederet giginya yang rapih.

Inka terdiam, satu lagi pertanyaan di benaknya kembali mengambang. Jika dia pergi, menghilang, siapa saja yang akan mencarinya. Jika dia mati, air mata siapa saja yang akan tumpah dengan tulus. Pertanyaan-pertanyaan itu sederhana, Inka hanya ingin tahu siapa saja yang tulus mencintainya. 

Ibunya? Inka tahu, ia sudah banyak menyusahkan ibunya, mengecewakan bahkan menyakiti hati Ibunya. atau Ayahnya? Kak Nadia? Kak Alma? Dara? Bik Ima? Siapa? Lalu sahabat-sahabatnya, semua teman? Apa mereka tulus menyayanginya? Toh Inka sering merasa dirinya diabaikan, semua totalitasnya menyayangi mereka, menghafal setiap momen berharga, tetap saja yang Inka rasakan dari mereka berbeda. Pertanyaan itu sederhana, hanya butuh jawaban siapa saja yang menyayangi Inka dengan tulus.

“Kakak kok diem?”
“Hah? Eng, enggak .. Cuma kepikiran sesuatu aja.”
“Kakak boleh kok cerita ke Asti, mungkin Asti bisa bantu..”
Inka tersenyum. “Nggak usah, biar Kakak urus sendiri”
“Emang, kakak nggak capek ya ngangkut karung beras sendirian?”
“Maksud kamu?”
“Yang dipikirkan orang sampai bikin diem dan dipanggil berkali kali nggak nyahut biasanya itu masalah, nah masalah itu sama aja kayak karung beras yang diangkut di pundak. Jadi, Asti rasa Kakak butuh orang lain buat bantuin kakak ngangkut karung beras.

Deg.Kali ini sudah ke sekian kalinya, Inka tercengang dengan ucapan gadis polos tadi. Tajam, walau dikemas dalam bahasa sederhana.

Inka memejamkan mata, mencoba memikirkan segalanya. “Kak… Asti pergi dulu ya” Suara lirih Asti menyadarkan Inka beberapa detik kemudian. Inka memperhatikan sekelilingnya, berusaha menemukan Asti dan sayangnya bocah itu telah pergi. Inka mengecek jam tangannya, memastikan berapa menit lagi kereta akan melintas.

        ‘tiga menit lagi’ Inka mulai bimbang, meneruskan niatnya atau mencoba mendengarkan saran Asti untuk berbagi ‘karung beras’,Inka mengakuinya selama ini dia selalu berusaha memendam semua masalahnya sendiri, bak superhero Inka selalu merasa dia mampu menyelesaikan seluruh persoalannya sendirian. Sampai pada akhirnya titik jenuh, batas kemampuan, atau apalah itu muncul tiba-tiba. Inka tahu dia tertekan. Inka menhan nafas, dari kejauhan mulai tampak siluet kereta yang melaju cepat. Inka menggigit bibirnya, memejamkan mata. Kaki nya mendadak beku, ia pasrah sementara pikirannya berkecamuk. Inka melihat dari celah matanya, lampu kereta api yang semakin mendekat, BLAM! Dan segalanya menghitam.

          Inka membuka matanya, sebuah ruang kosong yang gelap. Inikah kematian? Tanyanya. ‘Sesederhana ini? Hanya gelap, hampa. Tak ada malaikat maut yang menjemputnya, melepas nyawa dengan rasa sakit yang katanya luar biasa. Hanya ini?’ Inka melihat cahaya, dia mengikutinya.. cahaya itu mengantarnya ke sebuah bangku kecil dan seorang anak yang memangku boneka nya.

“Asti?”
“Eh, Kak Inka.. duduk sini kak” Asti tersenyum manis. Inka terdiam, anak kecil ini memang Asti, tapi penampilannya lebih manis dari dapada yang ia temui tadi. Inka bingung, ada apa ini? Satu lagi pertanyaan baru bagi nya.
“Kakak kok diem?” Déjà vu. Siang tadi Asti menanyakan pertanyaan yang sama. Inka tak menjawab, ia hanya menatap Asti penuh tanya.

   “Lari itu nggak menyelesaikan masalah kak, buktinya kakak masih bisa ingat tentang semuanya. Kakak nggak akan bisa lari walau kesini sekalipun, kecualii yaah, kakak lupa ingatan. Masalah itu dihadapi kak, diselesaikan, terus tinggal ditinggalin deh dibelakang. Nih ya kak, ibaratnya masalah itu kucing kelaparan yang ngejar kakak, solusinya ya kakak ngasi makan kucing tadi. Dengan begitu si kucing akan diam dan nggak ngejar lagi. Selesai.” Asti tersenyum lebar.

Inka masih terdiam, membenarkan kata-kata Asti, tapi dia hanya bisa diam. Inka tidak tahu cara nya kembali dan menyelesaikan semua masalahnya, dia disini sekarang bersama jutaan pikiran yang berkecamuk dibenaknya, tanpa ia tahu harus bagaimana.

“Kakak kan masih punya orang lain disekitar kakak, kakak bisa kok bagi karung beras ke mereka. Percaya dong kak, Satu hari itu cuma 24 jam, nggak mungkin lebih. Dan yang namanya masalah, hari ini ada, bisa jadi besok udah terkikis. Jangan terlalu didaftar jadi beban. Disenyumin aja, ntar juga masalahnya nemuin solusi, apapun itu.”
Inka kembali memejamkan mata, kembali berharap waktu bisa diulang, kembali berdo’a agar dia diijinkan memulai segalanya biarpun ia harus memulainya di detik terakhirnya.

“kaaa?Reinkamalia…tolong sadar”
Inka membuka mata, “Kaska?” Inka memperhatikan sekelilingnya, ‘rumah sakit?’
“Asti mana Kas?”
“Asti?”
“Iya. Asti. Anak kecil yang dikuncir dua, pakai gelang kupu-kupu”
“Dia nggak ada ka”Wajah Kaska meredup.
“Dia udah pulang?Kok dia nggak nunggu aku sadar sih?”
“Dia nggak ada, nggak pernah ada.”Kaska membuang muka, menghindari tatapan tanya Inka.

Rel Kereta Mati batal mendapatkan tambahan mineral tanahnya. Begitu juga Inka, dia batal menuliskan hari itu sebagai tanggal terakhirnya. Semua berkat Asti. Karena Asti pernah bertemu Kaska, orang seumuran Inka yang menantang kereta sebelumnya. Asti juga berhasil membuat Kaska mengurungkan niatnya dengan semua kata-kata bijaknya. Secara teknis Inka memang diselamatkan oleh Kaska. Kaska datang ke tempat itu untuk mencari gadis kecil bernama Asti, dia datang setiap harinya dan tidak pernah menemukan bukti apapun tentang keberadaan Asti. 

Kenyataannya Rel Kereta Mati terlalu jauh dari pemukiman, dan mustahil bagi seorang gadis kecil berusia Sembilan tahunan bisa bermain-main sampai ketempat itu. Tapi tetap saja, Inka selamat berkat Asti. Siapapun Asti, dia telah menghidupkan semangat dua orang bernama Inka dan Kaska untuk kembali melanjutkan hidup.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Deep Thought in middle of 2025: Mental Health

For the intro, entah tabiat atau gimana blog ini kayaknya akan ada post dump setahun sekali deh. But it's okay tho, at least setiap tah...