Karena Hujan
Entah
apa yang membuat hujan tampak begitu menarik. Mungkin hujan menyapu luka setiap
makhluk yang menikmatinya. Atau mungkin karena pelangi yang muncul setelahnya,
yang jelas tak satupun ketertarikan akan hujan ada padaku. Hujan hanya tetesan
air yang turun secara kolosal, Hujan sekedar uap air yang ada akibat awan yang meleleh, hanya itu
dan bagiku hujan tidak menarik. Karena
aku membencinya.
Oktober 2011
Pagi!
Namun tidak cerah. Karena seharusnya pagi ini aku bisa melihat matahari dibalik
jendela kamar. Tapi hari ini, lagi-lagi hujan. Itu artinya tak ada matahari.
Menyebalkan, ditambah lagi hari ini Bunda masuk pagi, itu berarti sekali lagi
aku harus mengalah, membiarkan hujan pergi dengan sendirinya sementara aku
harus menunggu entah berapa menit atau mungkin berjam-jam. Lebih baik begitu,
dari pada aku memaksakan diri.
“Di, jangan lupa
payungnya” Bunda mengingatkanku untuk kesekian kalinya pagi ini.
“Ya bun, hari ini Audi
agak siangan kok”
“Oh ya? Yaudah, jangan
lupa kunci pintu, Bunda duluan”
Hujan dan Bunda sama
saja, Kak Ame juga. Tak satupun dari mereka yang mengerti mau ku. Mereka datang
dan pergi sesuka hati. Dua puluh lima menit lagi gerbang sekolah ditutup tapi
hujan masih belum mau berhenti. Kira-kira Fridia sudah berangkat, belum ya?
“Fridia..” teriakku dari balik jendela kamar. Fridia itu tetangga
sebelah rumah, yang jendela kamarnya berseberangan dengan jendela kamarku dan
dia juga teman satu sekolahku.
“Ya? Mau bareng lagi
Di? “ sahut gadis tetanggaku dari balik jendelanya.
“Hujan.” jawabku pendek,
aku tahu Fridia mengerti maksudku.
“Ya ya, lima menit lagi
tunggu aku di teras. Oke?” dan Fridia kembali menghilang dari kusen jendela.
Fridia sahabatku,
mungkin bisa dibilang satu-satunya sahabat yang aku punya selain…
selain orang yang juga sama saja dengan Bunda, Kak Ame dan Hujan.
selain orang yang juga sama saja dengan Bunda, Kak Ame dan Hujan.
Di
sekolah, Fridia dan aku beda kelas, kesimpulannya selain Fridia teman sekelasku
yang lain hanya figuran di hidupku, sampai suatu hari sekitar sebulan yang lalu
ada seseorang yang sedikit menarik perhatianku. Namanya Regan, perhatian disini
bukan berarti aku menyukainya, hanya saja dia kelihatan berbeda.
Pagi ini Regan berulah
lagi, manusia satu itu masuk kelas dengan seragam yang basah. Pasti karena
hujan. Untuk kesekian kalinya hujan menyusahkan.
Regan menghampiriku.
“Hei Claud!”Sapanya. Berbeda
dari siapapun, dia memanggilku ‘claud’. Iyasih, nama lengkapku memang Claudia
Hui, tapi hanya dua orang seumur hidupku yang memanggilku Claud, Almarhum papa
dan Regan.
“Hai! Kehujanan?”
tanyaku. Retorik memang, tapi tak apalah, basa-basi.
“Ya. Sedikit unsur
kesengajaan sih “ Regan tertawa kecil.
“Rela banget dibasahin
hujan, nggak sayang badan?” sindirku.
“Hujan-hujanan itu
asik, seru. Aku kan fans beratnya hujan”sahutnya bangga.
“Apa hebatnya hujan?”
“Em. Hebatnya hujan ya?
Dingin, sejuk, menenangkan”
“Menenangkan dari mana?
Hujan itu cengeng, mendung itu suram, sedih, putus asa. “ jawabku.
“Anggapanmu aja yang
terlalu negatif. Hujan itu menginspirasi”
“Menginspirasi?
menginspirasi orang buat nulis puisi sendu mereka?”
“Nggak juga. Hujan
nggak selalu bertemakan sedih bukan?”
“Entahlah, menurutku
hujan identik dengan air mata dan itu artinya kesedihan”
“Masih ada air mata
bahagia, yang satu ini lawan persepsimu”
“Terserahlah, hujan itu
menghadirkan banjir, banyak kecelakaan terjadi karena hujan, singkatnya hujan
melenyapkan nyawa banyak orang”
“Tapi semua itu bukan
murni salah hujan, kamu harus..”
“Sudahlah, bagaimanapun
hujan tetaplah hujan”Argumen Regan kusela begitu saja.
“Maksudmu?”tanyanya
bingung.
”Aku ke perpus dulu,
cari bahan tugas. Jam pertama kosong kan.” aku bergegas pergi, tak ada gunanya
berdebat dengan Regan.
Hujan
selalu sama. Mendung, basah, genangan air. Kadang, aku berharap dilahirkan di
bumi belahan subtropis. Mungkin disana hanya akan ada salju, yang jelas frekuensi
turun hujan tidak akan sesering di bagian tropis. Indonesia maksudku.
Atau sekalian saja di kutub selatan. Biarpun aku harus hidup bersama penguin.
***
Sepulang
sekolah, Regan menghampiriku lagi. Mungkin dia masih penasaran atau mungkin
kesal karena aku membenci hujan yang ia sukai. Aku tahu dia menemuiku sekedar
mau membahas hujan. Sejujurnya aku
enggan mendengarkan celotehan orang
tentang sebagus apa hujan, sehebat apa hujan dan bla bla bla. Tapi berhubung
ini Regan, aku jadi tertarik mendengar apa pendapatnya.
“Claud, aku masih
bingung. Kamu membenci hujan?” Tanya Regan tepat seperti yang kuduga.
“Kalau Iya? Hujan
pantas dibenci, menurutku hujan lebih banyak merugikan dari pada menguntungkan”
“Kenapa kamu benci
hujan? Hujan itu menyenangkan. ” Deg! Kata-kata ini persis dengan kata-kata
Evan dulu. ‘Tenang Audi..siapapun bisa kok mengucapkan itu’ujar hatiku
menenangkan diri.
“Dari dulu, dari kecil
aku berbeda. Aku memang membenci hujan, di mataku hujan nggak menarik”
“Bisa jadi itu hanya
sugestimu, coba aja rasakan hujan lebih dalam, aku yakin kamu bisa mengubah
kebencianmu”
“Merasakan hujan?
Melihatnya saja aku enggan, apalagi menyentuh atau merasakannya. Hujan terlalu
mengerikan untuk dipahami”
“Kamu aneh Di, hujan
punya sisi menarik kok, coba saja kamu perhatikan. Rintik-rintiknya yang indah,
aroma khas hujan yang dilepas tanah ke udara .. semua itu menenangkan.” Ucapan
Regan terhenti. “Ya ampun, aku baru ingat. Claud, aku balik ke kelas dulu, ada
yang ketinggalan.”
Dan Reganpun beranjak
pergi, meninggalkanku sendiri di bangku depan perpustakaan. Langit mulai
berubah warna kelabu. Sepertinya sebentar lagi turun hujan.
Pikiranku mulai
berkecamuk, menenggelamkan aku pada opini Regan, menyeret alur memoriku menepi ke beberapa peristiwa
bertahun-tahun silam. Hujan identik dengan pemakaman, buktinya waktu Papa, Evan
dan Kak Ame dimakamkan, hujan selalu ada.
Hujan,
awan, mendung. Hujan juga menghalangi sinar matahari. Hujan membuat waktu jadi
terlihat mencekam. Seharusnya hujan dibenci! Air mataku tiba-tiba menetes.
Papa, Bunda, Kak Ame, Evan, Fridia bahkan Regan dan yang lainnya. Mereka semua
suka hujan. Hujan mulai deras saat aku menyeka air mataku.
Selama ini aku selalu
berusaha tidak melihat hujan, mengalihkan pandangan lebih tepatnya. Tapi kali
ini aku mau menuruti kata Regan, mencoba mengamati hujan, merasakannya mungkin
bisa mengurangi kebencian.
Sepasang
tangan menarikku seketika, membawaku merasakan hujan secara nyata. Regan
menarikku ke lapangan. Bayangan petir waktu
itu tiba tiba melintas, mendadak perasaan sakit itu kembali menyeruak. Tawa
terakhir Kak Ame, teriakan kami, suara deras hujan, decitan rem, suara
hantaman, darah. Rentetan peristiwa itu tampak semakin nyata, membenamkan aku
pada sudut ketakutanku. Gelap! Dan aku tidak ingat apa apa lagi.
Yang aku tahu, aku
terpejam dan waktu mataku terbuka, semuanya serba putih. Ini rumah sakit?
Atau…? Pikiranku mulai kemana mana, sampai aku terpejam lagi.
***
Hari kedua November
2011
Aku
sangat membenci hujan, bisa dibilang hujan tampak menakutkan bagiku, setiap aku
melihat hujan aku seperti mendengar isakan tangisku beberapa tahun lalu,
tangisan yang mampu mengantarkan aku pada perasaan kehilangan itu, semacam luka
hati dan ironisnya rasa sakitnya masih sama. Dalam hujan seperti ada siluet
ambigu yang entah apa. Terlalu suram.
Sebuah
kebencian seringnya membuat seseorang buta nilai positif, begitu juga aku. Kadang aku bingung, ini rasa benci atau ketakutan?
Melihat hujan saja membuatku membeku.
Sejak
kejadian di lapangan sore itu, aku masih meringkuk di sudut kamar berusaha
menenangkan diri. Mungkin sudah berhari-hari aku bolos sekolah, keterangannya
sih sakit dan kenyataannya aku memang sakit, sakit di hati. Ironisnya lagi tidak
ada satupun yang tahu atau peduli aku kenapa, bahkan Bunda juga. Beliau hanya
tahu kalau aku demam. Satu-satunya yang tahu keadaanku sebenarnya hanya Fridia,
itupun karena aku yang memberitahunya.
Samar-samar
kudengar ketukan pintu, ada tamu rupanya. Sebuah suara memanggil namaku dari
balik pintu ruang tamu. Astaga, itu suara Regan, mau apa dia? Ya Tuhan, Aku
baru ingat siang ini Bunda kerja otomatis satu-satunya orang yang ada di rumah ini
hanya aku, dan aku enggan menemuinya. Bagaimana ini. Oh iya, Fridia. Aku bisa
meminta dia menemui Regan, dan meminta manusia satu itu pergi.
“Regan? Cari Audi?”
Tanya Fridia di teras rumah, sahabatku itu langsung datang semenit setelah sms
ku terkirim. Aku mempertajam pendengaranku dari balik pintu.
“Iya. Claud, em
maksudku Audi, ada di rumah?”
“Entahlah , bisa jadi
dia di kamar, dan tidak mau menemuimu.” Jawab Fridia sinis.
“Kenapa?” hening sesaat
“Karena kejadian sore itu?”lanjutnya.
“Kamu tau kan, Audi
nggak suka hujan. Kenapa kamu paksa dia hujan-hujanan?”
“Aku pikir, dia bisa
suka sama hujan, kalau dia merasakan hujan.”
“Cara itu nggak akan
pernah berhasil. Kamu mengusik memori suram nya sore itu.” Aku tersentak,
‘kumohon Fri,jangan diteruskan’.
“Memori? Bisa kamu
ceritakan?”
“Oke, agar kamu paham! Audi
trauma sama hujan, baginya hujan merenggut orang-orang yang disayangi Audi.
Kata Bundanya, dari kecil Audi memang nggak tertarik sama yang namanya
hujan-hujanan, sampai suatu hari Audi punya tetangga baru, namanya Evan, dia
tinggal di rumah yang aku tempati saat ini……”
Pikiranku
teralihkan dari pembicaraan mereka. Membuka kotak kenangan ketika usiaku masih
tujuh tahun. Dan Evan, dia dua tahun lebih tua dariku. Ya Tuhan, aku merindukan
teman kecil sekaligus sahabat terbaikku itu.
Hanya Evan yang bisa menghentikan tangisku
ketika Papa pergi, Evan juga yang berhasil membuatku menyentuh hujan untuk
pertama kalinya. Evan mengajariku banyak hal, menunjukkan pelangi. Evan bilang
hujan itu air mata bidadari di atas awan sana, dan kalau manusia di muka bumi
ini ikut sedih, maka sang bidadari akan terus menangis. Evan juga pernah
menjamin kalau hujan tidak akan menyakiti siapapun,tapi pada akhirnya aku tahu
kalau kata-kata Evan tidak terbukti. Evan bohong.
Hujan
bahkan membuat Evan gagal diselamatkan. Mobil yang membawa Evan dalam keadaan
kritis karena asma nya yang kambuh terhenti di tengah jalan , waktu itu hujan
sangat deras dan membuat macet di sepanjang jalan menuju rumah sakit. Tuhaaan,
aku masih bisa merasakan persaan kehilangan itu. Semenjak kejadian itu aku
resmi membenci hujan.
“Karena itu Audi
membenci hujan?”Tanya Regan saat telingaku kembali mendengar pembicaraan
mereka.
“Bukan cuma benci, dia
trauma sama hujan, Hujan juga membunuh kakaknya”jawab Fridia.
‘Fridiaaa, kumohon
jangan buka semuanya.’ Perlahan piringan hitam kejadian itu kembali berputar di
kepalaku, menyuarakan gelak tawa terakhir Kak Ame diiringi suara deras hujan.
Hari
itu pertama kalinya kakak diizinkan membawa mobil papa untuk menuruti
permintaanku pergi ke sebuah festival. Peristiwa
kelabu itu terjadi sepulang kami dari festival, hujan turun sangat deras dan
mengganggu pandangan kakak. Tapi kakak tetap ceria, tanpa ada sedikitpun
ketakutan. Entah apa yang terjadi tiba-tiba mobil kami menghantam tepi jalan
dan Bruak! Semuanya suram. Antara sadar dan tidak, samar-samar aku melihat
pecahan kaca yang menggores beberapa bagian wajah dan lenganku, dan wajah kakak
telah bersimbah darah.
Aku
menjerit seketika, Hujan masih deras pada saat itu. Darah di wajah kakak
mengalir tersiram air hujan yang merembes entah dari mana. Aku berusaha terjaga
dan meminta tolong sebisaku, suara petir memecah kesadaranku, bayangan hitam
seperti siluet yang entah apa mulai memburamkan pandanganku dan semuanya gelap!
Sejak hari itu kak Ame resmi meninggalkanku di tahun keempat setelah aku
kehilangan Evan.
Kata
Pak Hanung, papa Fridia -tetangga baruku, kak Ame melupakan satu hal, ban mobil
papa yang sudah lama tidak dipakai semenjak papa meninggal bisa dibilang tipis
dan menyebabkan kakak hilang kendali. Apapun penjelasannya tetap saja kak Ame
tak akan kembali. Aku benci kenyataan ini. Tapi
Aku lebih membenci hujan, karena dia selalu membuatku merasakan luka
yang sama dan selalu memproyeksikan kejadian itu setiap aku melihat kearahnya.
Aku
bergegas kembali ke kamar, menelungkupkan wajahku ke bantal, aku limbung, aku
lupa segalanya, aku lupa kalau Regan dan Fridia masih diluar dan
membicarakakanku. Lagi-lagi proyeksi hari itu terputar di ingatanku, membuat
air mataku turun sejadi-jadinya.
***
Kadang
keinginan untuk melupakan kejadian itu suram muncul, namun sepersekian detik
kemudian, puff! Sirna! Dan keinginan itu kembali terpendam di sudut hatiku yang
jauh tersembunyi. Mungkin aku harus mencoba bangkit, kenyataanya terpuruk bukan
suatu hal yang bagus.
Hari kesebelas November
2011
Pagi ini Regan
mengajakku ke suatu tempat yang entah dimana, dia bilang ini kejutan.
“Pagi Claud,
siap?”sapanya di ruang tamu ketika aku keluar dari kamar.
“Ya.” Jawabku singkat.
Regan
mempersilahkanku untuk naik ke mobilnya, dia bahkan membukakan pintu depan.
Sayangnya aku masih trauma untuk duduk di jok depan. Peristiwa kelabu itu
seakan mengutukku untuk tetap trauma dengan segala hal yang berkaitan dengan
waktu itu.
“Hei, kenapa nggak di
jok depan?”
“Nggak suka, apalagi
hari ini sepertinya hujan. Lebih baik aku dibelakang biar nggak berhadapan
langsung dengan hujan dan jalan raya.”jawabku datar. Regan mengernyitkan dahi.
“Masih trauma? Masih
keinget kecelakaan itu?”tanyanya. Aku terdiam.
“Ayolaah, belajar
berani. Percaya padaku. Lagipula aku bukan sopirmu dan seharusnya teman yang
baik duduk di samping pengemudi.”Regan menepuk pundakku, dan akhirnya aku
menuruti permintaannya. ‘Belajar berani’
Memberanikan diri.
Seolah argumen Regan selama ini merasuk ke pikiranku dan membuat keinginan itu
muncul tiba-tiba dari salah satu sudut hatiku. Perlu diakui kata-katanya cukup
hebat untuk membangunkanku dari sebuah mimpi buruk.
Selama
di perjalanan, Regan kembali berargumen sementara aku diam dan tak memberi
respon apapun. Hujan mulai turun, untungnya hanya gerimis. Meski begitu sang
memori suram mulai membayang, melintas sekilas di pikiranku. Kalau selama ini
aku mengalah dan mengalah, kali ini aku mencoba menepis semuanya. Mencoba
menyibukkan pikiranku dengan hal lain, tapi nafasku mulai tertahan. Siluet
ambigu itu mulai tampak nyata. Regan sepertinya menyadari perubahan raut muka
ku, dan dia menepikan mobilnya.
“Kamu nggak papa?”
tanyanya.
“Hanya sedikit sesak
nafas”jawabku singkat, aku tidak tahu lagi harus menjawab apa.
Regan mengambil headset dan Mp3player dari saku
jaketnya, dan dia memberikannya padaku.
“Lebih baik kamu mendengarkan musik, daripada
memikirkan hal yang menyakitimu”
Di setengah perjalanan
aku tertidur, entah kenapa rasanya cukup rileks mendengarkan lagu-lagu yang
diputarkan Regan.
Mobil Regan berhenti di
suatu tempat seperti sebuah perkebunan, sebelum kami turun Regan memintaku
memakai penutup mata dan tetap mengenakan headset. Bagian dari surprise, dia
bilang.
Dibalik penutup mata
rasanya gelap, ditambah headset dan lagu-lagunya aku jadi tidak bisa menebak
aku ada dimana. Hanya sedikit udara dingin dengan aroma yang menenangkan,
tanahnya juga becek, bekas hujan mungkin.
Regan menghentikan
langkahnya, kukira dia akan melepaskan penutup mataku, tapi ternyata dia hanya
diam dan menarikku duduk di sebuah bangku.
“Claud, tebak kita
dimana?”Regan melepas salah satu headsetku, suaranya jadi berbaur dengan lagu
dari Mp3player dan suara berisik di sekitarku.
“Mana aku tahu, ada
ini” aku menunjuk penutup mataku “Dsitambah lagi suara di sekitar yang bisa
membantuku menebak, berbaur dengan suara lagu.”
“Kamu merasakan
sesuatu? Udara nya atau apalah”Tanya Regan.
“Emm, dingin seperti ketika
hujan tapi aku tak mendengar ada hujan, dan ada aroma yang menenangkan”
“Bukan seperti Claud,
disini memang hujan.”
“Hujan? “ Tak ada
respon apapun. Aneh. Rasanya biasa saja ketika aku mendengar kalau saat ini
hujan, apa karena penutup mata dan headset ini. Aku memang langsung mengingat
peristiwa kelabu itu, tapi aku tidak merasakan apa-apa, tidak ada siluet hitam
yang berkelebat di tengah hujan, tidak ada rasa mual dan sakit yang sama. Aneh.
“Kamu nggak papa kan
Claud?” Tanya Regan hati-hati. Aku melepas headset dan mencoba memikirkan apa
yang aku rasakan.
“Entahlah. Aku tidak
merasakan apa-apa, rasanya berbeda. Apa karena aku tidak melihat dan mendengar suara hujan?” tanyaku. Kuharap Regan bisa
menjawabnya.
“Aku juga tidak
tahu,mungkin setiap mimpi buruk punya
alasan untuk kembali, dan hanya kamu yang tahu alasannya”
“Tapi aku tidak pernah
menemukan alasannya. Aku hanya, hanya tidak bisa menyukai hujan”
“Seorang penulis buku,
pernah menuliskan bahwa Hujan dapat menyatu dalam pikiran siapa saja dan
membuat seseorang berfikir sama, tidak membaik dan terus terpuruk meski hal
yang buruk sudah berakhir. Mungkin alasannya sama denganmu, kamu terus
memikirkan peristiwa itu, menyalahkan hujan dan berfikir segalanya tak akan
membaik.”
Aku hanya bisa diam,
Regan melepas penutup mataku. Hujan tidak begitu deras, tidak juga gerimis. Aku
terpaku, mencari ketenangan di sela sela hujan. Mencoba berfikir segalanya
mungkin membaik.
Regan mendekati hujan,
menengadahkan tangannya dibawah tetesan hujan yang mengalir dari atas gazebo. “
Hujan selalu membuatku tenang, Hujan juga menginspirasi. Claud, aku selalu
ingin kamu setuju dengan pendapatku tentang hujan.” Manusia satu itu berbicara
sambil menatap hujan.
“Kamu yakin bisa
mengubah persepsiku tentang hujan?”
“99% Iya. Karena aku juga harus menepati janjiku kepada
seseorang” Regan melirikku sekilas.
“Janji? Kepada siapa?”
“Evan” jawab Regan dan
itu sangat mengejutkanku, Evan? Kenapa bisa?
“Waktu itu Fridia
menunjukkanku ini “ Regan mengeluarkan secarik kertas dari sakunya.
-
Dii membenci hujan.Dia bilang hujan membuatnya sedih. Harusnya Dii tahu kalau
hujan menakjubkan. Dii juga nggak pernah tahu rasanya hujan-hujanan. Dii selalu
cemberut ketika hujan datang. Tapi aku yakin, suatu hari nanti Dii akan menyukai hujan Dii harus kuat, jangan sedih -
“Fridi bilang kertas
ini ada di celah jendela kamarnya. Saat aku membacanya, aku langsung berjanji mewujudkan
keinginan teman kecilmu itu walau aku tak mengenalnya" Regan tersenyum. Aku
mulai sesenggukan, Evan sangat perhatian, dia benar-benar sahabat terbaikku.
Aku berusaha menahan tangis.
“Kamu harus bersyukur
memiliki teman kecil se-peduli Evan, dan tidak ada yang bisa menggantikan dia.”
Ucap Regan
Regan membungkuk
segaris dengan wajahku, “ Nangis aja, nggak perlu ditahan. Oh ya, kamu tahu
alasan lain kenapa aku menyukai hujan?” Aku melempar tatapan tanya ” Karena, ketika berjalan dibawah hujan, tidak
akan ada yang tahu jika aku menangis ketika sedih”
Aku menelungkupkan
wajah dibalik tanganku. Berusaha menyembunyikan bulir air mata.
“Ketakutan itu cuma perasaan, cuma prasangka.
Kali ini kamu harus percaya” Regan menarikku.
Awalnya Regan melindungi ku dengan jaketnya, sampai ditengah bukit dia berhenti dan melepaskan jaketnya. Air hujan mulai menyentuh kulitku. Regan terdiam dan hanya menatapku.
Awalnya Regan melindungi ku dengan jaketnya, sampai ditengah bukit dia berhenti dan melepaskan jaketnya. Air hujan mulai menyentuh kulitku. Regan terdiam dan hanya menatapku.
“Percaya” melihat
senyum Regan membuatku ikut tersenyum.
***
Taraa!
Mulai detik ini dan seterusnya. Dibawah tetesan hujan, aku, Claudia Hui
menyatakan diri berdamai dengan hujan. Seperti halnya sebuah kisah dongeng yang
berakhir bahagia, Kali ini aku benar-benar bahagia, Bisa melepas mimpi burukku,
perlu diakui manusia satu itu cukup hebat untuk mengubah persepsiku dalam waktu
yang singkat.
Regan benar, daripada aku sibuk menyalahkan
hujan, lebih baik aku mengenang papa, Evan dan kak Ame dalam hujan. Mereka
orang-orang yang berjuang membuatku menyukai hujan. Regan juga benar, aku harus
melupakan peristiwa kelabu itu dan menggantinya dengan kenangan bersama
orang-orang yang aku sayangi. Melupakan itu adalah hal terbaik jika sebuah
kenangan justru menciptakan ketakutan. Dan pada akhirnya aku juga mengerti,
karena hujan, mereka yang disekitarku jadi tampak lebih berarti. Apapun itu.
-selesai-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar