Minggu, 26 Mei 2013

Karena Hujan

Karena Hujan

Entah apa yang membuat hujan tampak begitu menarik. Mungkin hujan menyapu luka setiap makhluk yang menikmatinya. Atau mungkin karena pelangi yang muncul setelahnya, yang jelas tak satupun ketertarikan akan hujan ada padaku. Hujan hanya tetesan air yang turun secara kolosal, Hujan sekedar uap air  yang ada akibat awan yang meleleh, hanya itu dan bagiku hujan  tidak menarik. Karena aku membencinya.


Oktober 2011

Pagi! Namun tidak cerah. Karena seharusnya pagi ini aku bisa melihat matahari dibalik jendela kamar. Tapi hari ini, lagi-lagi hujan. Itu artinya tak ada matahari. Menyebalkan, ditambah lagi hari ini Bunda masuk pagi, itu berarti sekali lagi aku harus mengalah, membiarkan hujan pergi dengan sendirinya sementara aku harus menunggu entah berapa menit atau mungkin berjam-jam. Lebih baik begitu, dari pada aku memaksakan diri.
“Di, jangan lupa payungnya” Bunda mengingatkanku untuk kesekian kalinya pagi ini.
“Ya bun, hari ini Audi agak siangan kok”
“Oh ya? Yaudah, jangan lupa kunci pintu, Bunda duluan”

Hujan dan Bunda sama saja, Kak Ame juga. Tak satupun dari mereka yang mengerti mau ku. Mereka datang dan pergi sesuka hati. Dua puluh lima menit lagi gerbang sekolah ditutup tapi hujan masih belum mau berhenti. Kira-kira Fridia sudah berangkat, belum ya?
“Fridia..” teriakku  dari balik jendela kamar. Fridia itu tetangga sebelah rumah, yang jendela kamarnya berseberangan dengan jendela kamarku dan dia juga teman satu sekolahku.
“Ya? Mau bareng lagi Di? “ sahut gadis tetanggaku dari balik jendelanya.
“Hujan.” jawabku pendek, aku tahu Fridia mengerti maksudku.
“Ya ya, lima menit lagi tunggu aku di teras. Oke?” dan Fridia kembali menghilang dari kusen jendela.
Fridia sahabatku, mungkin bisa dibilang satu-satunya sahabat yang aku punya selain…
selain orang yang juga sama saja dengan Bunda, Kak  Ame dan Hujan.

Di sekolah, Fridia dan aku beda kelas, kesimpulannya selain Fridia teman sekelasku yang lain hanya figuran di hidupku, sampai suatu hari sekitar sebulan yang lalu ada seseorang yang sedikit menarik perhatianku. Namanya Regan, perhatian disini bukan berarti aku menyukainya, hanya saja dia kelihatan berbeda.
Pagi ini Regan berulah lagi, manusia satu itu masuk kelas dengan seragam yang basah. Pasti karena hujan. Untuk kesekian kalinya hujan menyusahkan.
Regan menghampiriku.
“Hei Claud!”Sapanya. Berbeda dari siapapun, dia memanggilku ‘claud’. Iyasih, nama lengkapku memang Claudia Hui, tapi hanya dua orang seumur hidupku yang memanggilku Claud, Almarhum papa dan Regan.
“Hai! Kehujanan?” tanyaku. Retorik memang, tapi tak apalah, basa-basi.
“Ya. Sedikit unsur kesengajaan sih “ Regan tertawa kecil.
“Rela banget dibasahin hujan, nggak sayang badan?” sindirku.
“Hujan-hujanan itu asik, seru. Aku kan fans beratnya hujan”sahutnya bangga.
“Apa hebatnya hujan?”
“Em. Hebatnya hujan ya? Dingin, sejuk, menenangkan”
“Menenangkan dari mana? Hujan itu cengeng, mendung itu suram, sedih, putus asa. “ jawabku.
“Anggapanmu aja yang terlalu negatif. Hujan itu menginspirasi”
“Menginspirasi? menginspirasi orang buat nulis puisi sendu mereka?”
“Nggak juga. Hujan nggak selalu bertemakan sedih bukan?”
“Entahlah, menurutku hujan identik dengan air mata dan itu artinya kesedihan”
“Masih ada air mata bahagia, yang satu ini lawan persepsimu”
“Terserahlah, hujan itu menghadirkan banjir, banyak kecelakaan terjadi karena hujan, singkatnya hujan melenyapkan nyawa banyak orang”
“Tapi semua itu bukan murni salah hujan, kamu harus..”
“Sudahlah, bagaimanapun hujan tetaplah hujan”Argumen Regan kusela begitu saja.
“Maksudmu?”tanyanya bingung.
”Aku ke perpus dulu, cari bahan tugas. Jam pertama kosong kan.” aku bergegas pergi, tak ada gunanya berdebat dengan Regan.
Hujan selalu sama. Mendung, basah, genangan air. Kadang, aku berharap dilahirkan di bumi belahan subtropis. Mungkin disana hanya akan ada salju, yang jelas  frekuensi  turun hujan tidak akan sesering di bagian tropis. Indonesia maksudku. Atau sekalian saja di kutub selatan. Biarpun aku harus hidup bersama penguin.
***
Sepulang sekolah, Regan menghampiriku lagi. Mungkin dia masih penasaran atau mungkin kesal karena aku membenci hujan yang ia sukai. Aku tahu dia menemuiku sekedar mau membahas hujan. Sejujurnya  aku enggan  mendengarkan celotehan orang tentang sebagus apa hujan, sehebat apa hujan dan bla bla bla. Tapi berhubung ini Regan, aku jadi tertarik mendengar apa pendapatnya.
“Claud, aku masih bingung. Kamu membenci hujan?” Tanya Regan tepat seperti yang kuduga.
“Kalau Iya? Hujan pantas dibenci, menurutku hujan lebih banyak merugikan dari pada menguntungkan”
“Kenapa kamu benci hujan? Hujan itu menyenangkan. ” Deg! Kata-kata ini persis dengan kata-kata Evan dulu. ‘Tenang Audi..siapapun bisa kok mengucapkan itu’ujar hatiku menenangkan diri.
“Dari dulu, dari kecil aku berbeda. Aku memang membenci hujan, di mataku hujan nggak menarik”
“Bisa jadi itu hanya sugestimu, coba aja rasakan hujan lebih dalam, aku yakin kamu bisa mengubah kebencianmu”
“Merasakan hujan? Melihatnya saja aku enggan, apalagi menyentuh atau merasakannya. Hujan terlalu mengerikan untuk dipahami”
“Kamu aneh Di, hujan punya sisi menarik kok, coba saja kamu perhatikan. Rintik-rintiknya yang indah, aroma khas hujan yang dilepas tanah ke udara .. semua itu menenangkan.” Ucapan Regan terhenti. “Ya ampun, aku baru ingat. Claud, aku balik ke kelas dulu, ada yang ketinggalan.”
Dan Reganpun beranjak pergi, meninggalkanku sendiri di bangku depan perpustakaan. Langit mulai berubah warna kelabu. Sepertinya sebentar lagi turun hujan.
Pikiranku mulai berkecamuk, menenggelamkan aku pada opini Regan, menyeret  alur memoriku menepi ke beberapa peristiwa bertahun-tahun silam. Hujan identik dengan pemakaman, buktinya waktu Papa, Evan dan Kak Ame dimakamkan, hujan selalu ada.
Hujan, awan, mendung. Hujan juga menghalangi sinar matahari. Hujan membuat waktu jadi terlihat mencekam. Seharusnya hujan dibenci! Air mataku tiba-tiba menetes. Papa, Bunda, Kak Ame, Evan, Fridia bahkan Regan dan yang lainnya. Mereka semua suka hujan. Hujan mulai deras saat aku menyeka air mataku.
Selama ini aku selalu berusaha tidak melihat hujan, mengalihkan pandangan lebih tepatnya. Tapi kali ini aku mau menuruti kata Regan, mencoba mengamati hujan, merasakannya mungkin bisa mengurangi kebencian.
Sepasang tangan menarikku seketika, membawaku merasakan hujan secara nyata. Regan menarikku ke lapangan. Bayangan petir waktu  itu tiba tiba melintas, mendadak perasaan sakit itu kembali menyeruak. Tawa terakhir Kak Ame, teriakan kami, suara deras hujan, decitan rem, suara hantaman, darah. Rentetan peristiwa itu tampak semakin nyata, membenamkan aku pada sudut ketakutanku. Gelap! Dan aku tidak ingat apa apa lagi.
Yang aku tahu, aku terpejam dan waktu mataku terbuka, semuanya serba putih. Ini rumah sakit? Atau…? Pikiranku mulai kemana mana, sampai aku terpejam lagi.
***
Hari kedua November 2011
Aku sangat membenci hujan, bisa dibilang hujan tampak menakutkan bagiku, setiap aku melihat hujan aku seperti mendengar isakan tangisku beberapa tahun lalu, tangisan yang mampu mengantarkan aku pada perasaan kehilangan itu, semacam luka hati dan ironisnya rasa sakitnya masih sama. Dalam hujan seperti ada siluet ambigu yang entah apa. Terlalu suram.
Sebuah kebencian seringnya membuat seseorang buta nilai positif, begitu juga aku.  Kadang aku bingung, ini rasa benci atau ketakutan? Melihat hujan saja membuatku membeku.
Sejak kejadian di lapangan sore itu, aku masih meringkuk di sudut kamar berusaha menenangkan diri. Mungkin sudah berhari-hari aku bolos sekolah, keterangannya sih sakit dan kenyataannya aku memang sakit, sakit di hati. Ironisnya lagi tidak ada satupun yang tahu atau peduli aku kenapa, bahkan Bunda juga. Beliau hanya tahu kalau aku demam. Satu-satunya yang tahu keadaanku sebenarnya hanya Fridia, itupun karena aku yang memberitahunya.
Samar-samar kudengar ketukan pintu, ada tamu rupanya. Sebuah suara memanggil namaku dari balik pintu ruang tamu. Astaga, itu suara Regan, mau apa dia? Ya Tuhan, Aku baru ingat siang ini Bunda kerja otomatis satu-satunya orang yang ada di rumah ini hanya aku, dan aku enggan menemuinya. Bagaimana ini. Oh iya, Fridia. Aku bisa meminta dia menemui Regan, dan meminta manusia satu itu pergi.
“Regan? Cari Audi?” Tanya Fridia di teras rumah, sahabatku itu langsung datang semenit setelah sms ku terkirim. Aku mempertajam pendengaranku dari balik pintu.
“Iya. Claud, em maksudku Audi, ada di rumah?”
“Entahlah , bisa jadi dia di kamar, dan tidak mau menemuimu.” Jawab Fridia sinis.
“Kenapa?” hening sesaat “Karena kejadian sore itu?”lanjutnya.
“Kamu tau kan, Audi nggak suka hujan. Kenapa kamu paksa dia hujan-hujanan?”
“Aku pikir, dia bisa suka sama hujan, kalau dia merasakan hujan.”
“Cara itu nggak akan pernah berhasil. Kamu mengusik memori suram nya sore itu.” Aku tersentak, ‘kumohon Fri,jangan diteruskan’.
“Memori? Bisa kamu ceritakan?”
“Oke, agar kamu paham! Audi trauma sama hujan, baginya hujan merenggut orang-orang yang disayangi Audi. Kata Bundanya, dari kecil Audi memang nggak tertarik sama yang namanya hujan-hujanan, sampai suatu hari Audi punya tetangga baru, namanya Evan, dia tinggal di rumah yang aku tempati saat ini……”
Pikiranku teralihkan dari pembicaraan mereka. Membuka kotak kenangan ketika usiaku masih tujuh tahun. Dan Evan, dia dua tahun lebih tua dariku. Ya Tuhan, aku merindukan teman kecil sekaligus sahabat terbaikku itu.
 Hanya Evan yang bisa menghentikan tangisku ketika Papa pergi, Evan juga yang berhasil membuatku menyentuh hujan untuk pertama kalinya. Evan mengajariku banyak hal, menunjukkan pelangi. Evan bilang hujan itu air mata bidadari di atas awan sana, dan kalau manusia di muka bumi ini ikut sedih, maka sang bidadari akan terus menangis. Evan juga pernah menjamin kalau hujan tidak akan menyakiti siapapun,tapi pada akhirnya aku tahu kalau kata-kata Evan tidak terbukti. Evan bohong.
Hujan bahkan membuat Evan gagal diselamatkan. Mobil yang membawa Evan dalam keadaan kritis karena asma nya yang kambuh terhenti di tengah jalan , waktu itu hujan sangat deras dan membuat macet di sepanjang jalan menuju rumah sakit. Tuhaaan, aku masih bisa merasakan persaan kehilangan itu. Semenjak kejadian itu aku resmi membenci hujan.
“Karena itu Audi membenci hujan?”Tanya Regan saat telingaku kembali mendengar pembicaraan mereka.
“Bukan cuma benci, dia trauma sama hujan, Hujan juga membunuh kakaknya”jawab Fridia.
‘Fridiaaa, kumohon jangan buka semuanya.’ Perlahan piringan hitam kejadian itu kembali berputar di kepalaku, menyuarakan gelak tawa terakhir Kak Ame diiringi suara deras hujan.
Hari itu pertama kalinya kakak diizinkan membawa mobil papa untuk menuruti permintaanku pergi  ke sebuah festival. Peristiwa kelabu itu terjadi sepulang kami dari festival, hujan turun sangat deras dan mengganggu pandangan kakak. Tapi kakak tetap ceria, tanpa ada sedikitpun ketakutan. Entah apa yang terjadi tiba-tiba mobil kami menghantam tepi jalan dan Bruak! Semuanya suram. Antara sadar dan tidak, samar-samar aku melihat pecahan kaca yang menggores beberapa bagian wajah dan lenganku, dan wajah kakak telah bersimbah darah.
Aku menjerit seketika, Hujan masih deras pada saat itu. Darah di wajah kakak mengalir tersiram air hujan yang merembes entah dari mana. Aku berusaha terjaga dan meminta tolong sebisaku, suara petir memecah kesadaranku, bayangan hitam seperti siluet yang entah apa mulai memburamkan pandanganku dan semuanya gelap! Sejak hari itu kak Ame resmi meninggalkanku di tahun keempat setelah aku kehilangan Evan.
Kata Pak Hanung, papa Fridia -tetangga baruku, kak Ame melupakan satu hal, ban mobil papa yang sudah lama tidak dipakai semenjak papa meninggal bisa dibilang tipis dan menyebabkan kakak hilang kendali. Apapun penjelasannya tetap saja kak Ame tak akan kembali. Aku benci kenyataan ini. Tapi  Aku lebih membenci hujan, karena dia selalu membuatku merasakan luka yang sama dan selalu memproyeksikan kejadian itu setiap aku melihat kearahnya.
Aku bergegas kembali ke kamar, menelungkupkan wajahku ke bantal, aku limbung, aku lupa segalanya, aku lupa kalau Regan dan Fridia masih diluar dan membicarakakanku. Lagi-lagi proyeksi hari itu terputar di ingatanku, membuat air mataku turun sejadi-jadinya.
***
Kadang keinginan untuk melupakan kejadian itu suram muncul, namun sepersekian detik kemudian, puff! Sirna! Dan keinginan itu kembali terpendam di sudut hatiku yang jauh tersembunyi. Mungkin aku harus mencoba bangkit, kenyataanya terpuruk bukan suatu hal yang bagus.
Hari kesebelas November 2011
Pagi ini Regan mengajakku ke suatu tempat yang entah dimana, dia bilang ini kejutan.
“Pagi Claud, siap?”sapanya di ruang tamu ketika aku keluar dari kamar.
“Ya.” Jawabku singkat.
Regan mempersilahkanku untuk naik ke mobilnya, dia bahkan membukakan pintu depan. Sayangnya aku masih trauma untuk duduk di jok depan. Peristiwa kelabu itu seakan mengutukku untuk tetap trauma dengan segala hal yang berkaitan dengan waktu itu.
“Hei, kenapa nggak di jok depan?”
“Nggak suka, apalagi hari ini sepertinya hujan. Lebih baik aku dibelakang biar nggak berhadapan langsung dengan hujan dan jalan raya.”jawabku datar. Regan mengernyitkan dahi.
“Masih trauma? Masih keinget kecelakaan itu?”tanyanya. Aku terdiam.
“Ayolaah, belajar berani. Percaya padaku. Lagipula aku bukan sopirmu dan seharusnya teman yang baik duduk di samping pengemudi.”Regan menepuk pundakku, dan akhirnya aku menuruti permintaannya. ‘Belajar berani’
Memberanikan diri. Seolah argumen Regan selama ini merasuk ke pikiranku dan membuat keinginan itu muncul tiba-tiba dari salah satu sudut hatiku. Perlu diakui kata-katanya cukup hebat untuk membangunkanku dari sebuah mimpi buruk.
Selama di perjalanan, Regan kembali berargumen sementara aku diam dan tak memberi respon apapun. Hujan mulai turun, untungnya hanya gerimis. Meski begitu sang memori suram mulai membayang, melintas sekilas di pikiranku. Kalau selama ini aku mengalah dan mengalah, kali ini aku mencoba menepis semuanya. Mencoba menyibukkan pikiranku dengan hal lain, tapi nafasku mulai tertahan. Siluet ambigu itu mulai tampak nyata. Regan sepertinya menyadari perubahan raut muka ku, dan dia menepikan mobilnya.
“Kamu nggak papa?” tanyanya.
“Hanya sedikit sesak nafas”jawabku singkat, aku tidak tahu lagi harus menjawab apa.
Regan mengambil headset dan Mp3player dari saku jaketnya, dan dia memberikannya padaku.
“Lebih baik kamu mendengarkan musik, daripada memikirkan hal yang menyakitimu”
Di setengah perjalanan aku tertidur, entah kenapa rasanya cukup rileks mendengarkan lagu-lagu yang diputarkan Regan.
Mobil Regan berhenti di suatu tempat seperti sebuah perkebunan, sebelum kami turun Regan memintaku memakai penutup mata dan tetap mengenakan headset. Bagian dari surprise, dia bilang.
Dibalik penutup mata rasanya gelap, ditambah headset dan lagu-lagunya aku jadi tidak bisa menebak aku ada dimana. Hanya sedikit udara dingin dengan aroma yang menenangkan, tanahnya juga becek, bekas hujan mungkin.
Regan menghentikan langkahnya, kukira dia akan melepaskan penutup mataku, tapi ternyata dia hanya diam dan menarikku duduk di sebuah bangku.
“Claud, tebak kita dimana?”Regan melepas salah satu headsetku, suaranya jadi berbaur dengan lagu dari Mp3player dan suara berisik di sekitarku.
“Mana aku tahu, ada ini” aku menunjuk penutup mataku “Dsitambah lagi suara di sekitar yang bisa membantuku menebak, berbaur dengan suara lagu.”
“Kamu merasakan sesuatu? Udara nya atau apalah”Tanya Regan.
“Emm, dingin seperti ketika hujan tapi aku tak mendengar ada hujan, dan ada aroma yang menenangkan”
“Bukan seperti Claud, disini memang hujan.”
“Hujan? “ Tak ada respon apapun. Aneh. Rasanya biasa saja ketika aku mendengar kalau saat ini hujan, apa karena penutup mata dan headset ini. Aku memang langsung mengingat peristiwa kelabu itu, tapi aku tidak merasakan apa-apa, tidak ada siluet hitam yang berkelebat di tengah hujan, tidak ada rasa mual dan sakit yang sama. Aneh.
“Kamu nggak papa kan Claud?” Tanya Regan hati-hati. Aku melepas headset dan mencoba memikirkan apa yang aku rasakan.
“Entahlah. Aku tidak merasakan apa-apa, rasanya berbeda. Apa karena aku tidak melihat dan mendengar  suara hujan?” tanyaku. Kuharap Regan bisa menjawabnya.
“Aku juga tidak tahu,mungkin  setiap mimpi buruk punya alasan untuk kembali, dan hanya kamu yang tahu alasannya”
“Tapi aku tidak pernah menemukan alasannya. Aku hanya, hanya tidak bisa menyukai hujan”
“Seorang penulis buku, pernah menuliskan bahwa Hujan dapat menyatu dalam pikiran siapa saja dan membuat seseorang berfikir sama, tidak membaik dan terus terpuruk meski hal yang buruk sudah berakhir. Mungkin alasannya sama denganmu, kamu terus memikirkan peristiwa itu, menyalahkan hujan dan berfikir segalanya tak akan membaik.” 

Aku hanya bisa diam, Regan melepas penutup mataku. Hujan tidak begitu deras, tidak juga gerimis. Aku terpaku, mencari ketenangan di sela sela hujan. Mencoba berfikir segalanya mungkin membaik. 
Regan mendekati hujan, menengadahkan tangannya dibawah tetesan hujan yang mengalir dari atas gazebo. “ Hujan selalu membuatku tenang, Hujan juga menginspirasi. Claud, aku selalu ingin kamu setuju dengan pendapatku tentang hujan.” Manusia satu itu berbicara sambil menatap hujan.

“Kamu yakin bisa mengubah persepsiku tentang hujan?”
“99%  Iya. Karena aku juga harus menepati janjiku kepada seseorang” Regan melirikku sekilas.
“Janji? Kepada siapa?”
“Evan” jawab Regan dan itu sangat mengejutkanku, Evan? Kenapa bisa?
“Waktu itu Fridia menunjukkanku ini “ Regan mengeluarkan secarik kertas dari sakunya.

- Dii membenci hujan.Dia bilang hujan membuatnya sedih. Harusnya Dii tahu kalau hujan menakjubkan. Dii juga nggak pernah tahu rasanya hujan-hujanan. Dii selalu cemberut ketika hujan datang.   Tapi aku yakin,  suatu hari nanti Dii akan menyukai hujan Dii harus kuat, jangan sedih -

“Fridi bilang kertas ini ada di celah jendela kamarnya. Saat aku membacanya, aku langsung berjanji mewujudkan keinginan teman kecilmu itu walau aku tak mengenalnya" Regan tersenyum. Aku mulai sesenggukan, Evan sangat perhatian, dia benar-benar sahabat terbaikku. Aku berusaha menahan tangis.

“Kamu harus bersyukur memiliki teman kecil se-peduli Evan, dan tidak ada yang bisa menggantikan dia.” Ucap Regan 

Regan membungkuk segaris dengan wajahku, “ Nangis aja, nggak perlu ditahan. Oh ya, kamu tahu alasan lain kenapa aku menyukai hujan?” Aku melempar tatapan tanya ”  Karena, ketika berjalan dibawah hujan, tidak akan ada yang tahu jika aku menangis ketika sedih” 

Aku menelungkupkan wajah dibalik tanganku. Berusaha menyembunyikan bulir air mata.

 “Ketakutan itu cuma perasaan, cuma prasangka. Kali ini kamu harus percaya” Regan menarikku.
Awalnya Regan melindungi ku dengan jaketnya, sampai ditengah bukit dia berhenti dan melepaskan jaketnya. Air hujan mulai menyentuh kulitku. Regan terdiam dan hanya menatapku.
“Percaya” melihat senyum Regan membuatku ikut tersenyum.

***
Taraa! Mulai detik ini dan seterusnya. Dibawah tetesan hujan, aku, Claudia Hui menyatakan diri berdamai dengan hujan. Seperti halnya sebuah kisah dongeng yang berakhir bahagia, Kali ini aku benar-benar bahagia, Bisa melepas mimpi burukku, perlu diakui manusia satu itu cukup hebat untuk mengubah persepsiku dalam waktu yang singkat.
 Regan benar, daripada aku sibuk menyalahkan hujan, lebih baik aku mengenang papa, Evan dan kak Ame dalam hujan. Mereka orang-orang yang berjuang membuatku menyukai hujan. Regan juga benar, aku harus melupakan peristiwa kelabu itu dan menggantinya dengan kenangan bersama orang-orang yang aku sayangi. Melupakan itu adalah hal terbaik jika sebuah kenangan justru menciptakan ketakutan. Dan pada akhirnya aku juga mengerti, karena hujan, mereka yang disekitarku jadi tampak lebih berarti. Apapun itu.   
-selesai-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Deep Thought in middle of 2025: Mental Health

For the intro, entah tabiat atau gimana blog ini kayaknya akan ada post dump setahun sekali deh. But it's okay tho, at least setiap tah...